Sabtu, 18 Februari 2017

Transfigurasi

Ini adalah salah satu peristiwa yang terjadi pada Yesus ketika Petrus, Yakobus, dan Yohanes bersama-Nya di atas gunung (mungkin gunung Tabor di Nazareth) melihat-Nya diliputi cahaya kemuliaan dan berada bersama Musa dan Elia (Mat. 17:1-9; Mrk. 9:2-10; Luk. 9:28-36; 2Ptr. 1:16-19). Sebagai wakil hukum dan nabi-nabi, Musa dan Elia sudah melihat kemuliaan Allah (Kel. 24:12-18; 33:7-23; 34:29-35; 1Raj. 19:1-18). Dalam mistisisme Timur “cahaya Tabor” mempunyai arti sama dengan pengalaman akan Allah yang paling dalam, yang seutuhnya mengubah diri kita sesudah pendakian gunung yang berat (askese kita). Namun, yang paling penting bukanlah usaha yang mau tidak mau harus dilakukan, melainkan kemuliaan yang semakin besar yang menjadi titik kita kalau kita membiarkan Allah mengubah diri kita (2Kor. 3:18) [Gerald O’Collins, SJ & Edward G. Farrugia, SJ].

Beberapa tahun sesudah Yesus naik ke sorga, Petrus, Sang Batu Karang, yang menjadi bagian dari Peristiwa transfigurasi ini, memberi kesaksian demikian: “Kami menyaksikan, bagaimana Ia menerima kehormatan dan kemuliaan dari Allah Bapa, ketika datang kepadaNya suara dari Yang Mahamulia, yang mengatakan: Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan. Suara itu kami dengar datang dari sorga, ketika kami bersama-sama Dia di atas gunung yang kudus” (2Ptr. 1:17-18).


Catatan para penginjil (Matius, Markus, Lukas) dan kesaksian rasul Petrus menambah wawasan orang-orang Kristen awal, menguatkan hati mereka supaya teguh berdiri di tengah badai kesenangan duniawi. Bagaimana tidak, sebelum naik ke gunung Tabor, Yesus memberitahukan kepada para rasul tentang masa depanNya yang suram; bahwa Ia harus menanggung banyak penderitaan dan ditolak oleh tua-tua, imam-imam kepala, dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan bangkit sesudah tiga hari (Mrk. 98:31). Namun, sesudah peristiwa transfigurasi ini, ketika turun dari gunung itu, ketiga rasul itu menjadi bingung dan bertanya-tanya tentang pesan Yesus kepada mereka, yaitu supaya tidak menceritakan peristiwa itu kepada seorangpun, sebelum Anak Manusia bangkit dari antara orang mati. Maka mereka mempersoalkan: “apa yang dimaksud dengan bangkit dari antara orang mati.” Rupa-rupanya, kebangkitan Yesus kelak memiliki hubungan yang istimewa dengan peristiwa transfigurasi. Peristiwa ini lalu dirahasiakan dan menjadi suatu kenangan manis untuk ketiga rasul itu.

Peristiwa ini menurut Matius, memperlihatkan Yesus sebagai Musa baru (bdk. Mat. 17:1 dst), sedangkan Lukas menonjilkannya sebagai persiapan untuk penderitaan Yesus (bdk. Luk. 9:28 dst). Tetapi Markus terutama mengartikan peristiwa ini sebagai penyataan Mesias yang mulia, walaupun Mesias masih tersembunyi. Pengertian ini sesuai dengan pandangan Markus dalam seluruh injilnya. Meskipun hanya berlangsung sebentar, peristiwa ini menyatakan siapa sesungguhnya Yesus yang untuk sementara waktu perlu mengalami perendahan “Hamba Tuhan” yang menderita. Tidak lama lagi sepenuh-penuhnya dan untuk selama-lamanya akan dinyatakan siapa Yesus (Kitab Suci Katolik). Minimal, bagi seorang Petrus, pernyataan Yang Mahamulia kepada Yesus sungguh-sungguh terbukti; bahwa Yesuslah Musa dan Elia yang baru, yang sesudah kebangkitanNya naik ke sorga. Ingat, kebangkitan Yesus menambah dalam diri para rasul, menguatkan iman mereka kepada Yesus bahwa Dialah Tuhan, Anak yang dikasihi Bapa, yang kepadaNya Bapa berkenan.

Dan memang benar, peristiwa transfigurasi ini memiliki posisi dan hubungan yang khas dengan penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus. Peristiwa ini menguatkan para rasul untuk teguh memandang Yesus saat penderitaan itu tiba, tetapi sekaligus mengokohkan iman mereka tatkala memandang Yesus yang tersalibkan. Sementara, kebangkitan menyempurnakan pengalaman mereka denganNya supaya mereka dengan bebas dan berani mewartakanNya ke seluruh dunia. “Engkau dimuliakan di atas gunung, dan sejauh mereka mampu untuk itu, murid murid-Mu memandang kemuliaan-Mu, Kristus Allah, supaya apabila memandang Engkau yang tersalib, mereka mengerti bahwa kesengsaraan-Mu adalah sukarela, dan dengan demikian mereka menyampaikan kepada dunia bahwa Engkau sesungguhnya cahaya Bapa” (Liturgi Bisantin, Kontakion pada pesta “Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya”).

† Pax Domini, sit semper vobiscum †

Senin, 13 Februari 2017

"Cinta atau Benci untuk AHOK-DJAROT?"


Siapa yang tak kenal Ahok, lelaki keturunan Tionghoa itu, atau Djarot pasangan Ahok di PilGub DKI Jakarta? Dari Sabang sampai Merauke pasti banyak yang mengenal dua orang ini. Betapa fenomenal dan kental dua orang ini di jagat Indonesia saat ini. Perbincangan demi perbincangan di dunia nyata dan maya kerap kali melibatkan mereka, malahan tak tertahankan. Bahkan di belahan dunia lain di luar Indonesia pun ditemukan perbincangan istimewa sekitar dua sosok ini. Semakin tersohor memang, itu tidak diragukan lagi.

Ya, banyak yang mengenal keduanya tapi ada perbedaan dalam pengenalan itu. Ada yang mengenal karena mencintai lalu terus mencintai, ada pula yang mengenal untuk membenci karena terlalu dicintai. Beda kan? Jangan heran kalau banyak cinta lahir untuk mereka. Jangan pula heran kalau banyak benci menghampiri mereka. Cinta dan benci merupakan dua sisi yang berlainan layaknya satu logam mata uang, bertolak belakang dan tidak berhadapan.

Lima tahun terakhir ini Jakarta seperti baru lahir, bukan suatu reinkarnasi melainkan suatu dominasi demokrasi. Dari rakyat untuk rakyat, begitulah kura-kura. Pemimpin idaman sekaligus pencekal kematian yang selama ini bercokol di Ibu Kota Indonesia, Jakarta. Ini harapan rakyat yang sudah dibuktikan, sehingga Jakarta boleh menjadi model dan patokan bagi daerah lain di Indonesia.

Siapa pemimpin itu? Ahok! Siapa pendampingnya? Djarot! Mereka kompak menciptakan Jakarta baru, bukan tinggal mati di tempat. Ingin mereka memimpin lima tahun lagi? Pilih dua orang ini supaya Jakarta semakin baru. Ingat, Jakarta sudah baru tapi "pekerjaan belum selesai." Karenanya, lima tahun kemarin bukanlah waktu yang cukup, sekarang tambah lima tahun lagi, berikan mereka kesempatan dan kamu akan tahu bagaimana Jakarta kelak. Sudah pasti lebih dari sekedar baru.

Sekarang, mengapa dan dari sisi mana orang memandang mereka sebagai nomor satunya Jakarta.

Mengapa memilih Ahok-Djarot? Memilih Ahok-Djarot untuk DKI Jakarta pertama-tama bukan karena mereka ada di antara pilihan, tapi karena Ahok-Djarotlah yang memahami Jakarta dan kebutuhannya. Pilihan ini berdasarkan bukti, bukan hafalan konsep dan retorika kosong. Mereka berkonsep, beretorika dan membuktikan; ada nilainya, bukan tetap kosong. Ini yang benar, maka menentukan pilihan pun harus pada yang terbukti dan benar. Bukankah kebenaran itu ditemukan dalam keselarasan kata dan perbuatan? Jangan ragu memilih yang terbukti benar. Jadi, mengapa memilih Ahok-Djarot? Karena mereka pemimpin benar untuk Jakarta yang benar.

Dari sisi mana memilih Ahok-Djarot? Moralitas yang teruji! Belakangan, sebagian orang mencela Ahok: kata-katanya tidak sopan, kasar dan suka marah-marah. Amat manusiawilah itu, tapi jangan lupa ada asap karena ada api? Lah kalau begitu, di mana moralitasnya? Moralitasnya ada pada komitmen untuk tidak berteman dengan kejahatan. Anda tahu sendirilah kejahatan seperti apa yang sering dillakokan para penguasa politik. Dan, untuk kejahatan perlu sikap tidak sopan, untuk kejahatan perlu kasar, untuk kejahatan perlu marah-marah. Gaya blak-blakan kadang digunakan sebagai 'strategi' untuk memerangi kejahatan.

Akhirnya, mengapa harus memberi cinta kepada Ahok-Djarot? Ingat, sumber dan tujuan keberadaan manusia adalah cinta. Maka mencintai kebenaran adalah hal yang mutlak perlu. Sementara membenci kebenaran adalah kekeliruan terbesar sepanjang hidup. Kalau ada yang membenci dua orang ini, itu karena mereka terlalu dicintai. Dan kalau banyak yang mencintai dua orang ini, itu karena orang-orang tidak mau berkecimpung dalam kekeliruan. Mereka yakin kekeliruan hanya membawa kehancuran, sedangkan cinta membawa hidup kepada kesempurnaan. Di dalamnya ada kebenaran dan kebenaran itu yang memerdekakan. (Engga Condios, simpatisan Ahok-Djarot).

Minggu, 12 Februari 2017

Indonesiakanlah bangsaku

Orang Katolik,


"Ingatlah akan pemimpin-pemimpin kamu, yang telah menyampaikan firman Allah kepadamu. Perhatikanlah akhir hidup mereka dan contohlah iman mereka. Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya"(Ibr 13:7-8).

Untuk menghargai dan menjunjung tinggi toleransi, kerukunan dan kebhinekaan di negara ini, butuh perhatian kepada para pemimpin kita, Hierarki, yang selalu mengajarkan cinta kasih Kristus kepadamu. Mereka tidak pernah mengajarkan tentang perpecahan atau menabur kebencian melainkan menempatkan Kristus di dalam dirimu.

Hierarki Gereja adalah corong perdamaian, pelayan sekaligus pengusung persatuan. Titik tolaknya adalah cinta kasih Kristus. Kita boleh mencintai iman Katolik secara radikal, tetapi tidak boleh membenci sesama. Justru ketika kita mendengarkan dan menerima Kristus dari Hierarki dalam Gereja, kita dituntut untuk mengasihi sesama, siapa pun dia.

Universalitas kita sebagai Gereja yang didirikan Kristus menyentuh semua aspek kehidupan, mulai sejak lahir sampai mati, dalam untung dan malang, dan di mana saja. Maka jalinlah persaudaraan dengan siapa saja tanpa pilih kasih, usahakanlah perdamaian dan kesatuan. Ini dimulai dari kewajiban kita mendengarkan dan mengikuti Kristus melalui Hierarki Gereja.

In te Domine speravi, non confundar in aeternum.

Jika ya, katakan ya, jika tidak, katakan tidak

Matius 5:37 “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak! Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.”

#jika #ya … Ini sebuah ucapan terkenal, bdk. 2Kor. 1:17 (Jadi, adakah aku bertindak serampangan dalam merencanakan hal ini? Atau adakah aku membuat rencanaku sendiri, sehingga padaku serentak terdapat ya dan tidak?); Yak. 5:12 (Tetapi yang terutama, saudara-saudara, janganlah kamu bersumpah demi sorga maupun demi bumi atau demi sesuatu yang lain. Jika ya, hendaklah kamu katakana ya, jika tidak hendaklah kamu katakan tidak, supaya kamu jangan kena hukuman), dan ini dapat diartikan dengan berbagai cara:

1)      #Berkata #benar: kalau ya, hendaklah berkata ya, kalau tidak hendaklah berkata tidak;
2)      #Jujur: ya (atau tidak) yang diucapkan hendaknya sesuai dengan maksud dalam hati;
3)    Suatu ucapan meriah: mengulang ya atau tidak sudah cukup; tidak perlu orang masih angkat sumpah demi Allah.

#jika #ya … dalam Bil. 30:2 (Apabila seorang laki-laki bernazar atau bersumpah kepada TUHAN, sehingga ia mengikat dirinya kepada suatu janji, maka janganlah ia melanggar perkataannya itu; haruslah ia berbuat tepat seperti yang diucapkannya) dan Ul. 23:21 (Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu). Ini adalah firman yang disampaikan kepada bangsa Israel kala itu. Bahwa setiap kata atau sumpah atau janji hendaklah sesuai dengan yang keluar dari mulut, kalau tidak maka itu menjadi suatu kepalsuan. Lagi pula, hal itu mesti diwujudkan pada waktunya.

Dasarnya ada pada Sepuluh Perintah Allah, Kel. 20:16 (Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu). Larangan untuk mengucapkan kesaksian palsu atau pun dusta, diperluas dengan kewajiban untuk menepati sumpah yang telah diucapkan. Demikianlah kata-kata seseorang haruslah dapat dipercaya tanpa “embel-embel” atau tambahan apa pun untuk membuat kata-kata itu dianggap sah. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. Kesesuaian kata-kata yang menjadi sumpah amat perlu dipraktekkan di sini!


Kepada nenek moyang Israel, difirmankan, “Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu di depan Tuhan.” Namun Yesus menggarisbawahi ini dengan berkata “janganlah sekali-kali bersumpah….” Ia mengajarkan bahwa setiap sumpah melibatkan Allah dan bahwa kehadiran Allah dan kebenaranNya di dalam tiap perkataan harus dipegang dengan hormat. Hanya dengan penuh kesadaran menggunakan kata “Allah” dalam pembicaraan, itulah yang sesuai dengan penghormatan kepada kehadiranNya, yang disesuaikan atau diperolok oleh tiap ungkapan ktia. Tradisi Gereja mengartikan perkataan Yesus demikian bahwa ia tidak melarang sumpah, kalau itu menyangkut satu masalah yang berat dan benar (umpamanya di depan pengadilan). “Sumpah, ialah menyerukan nama Allah selaku saksi kebenaran, hanya boleh diucapkan dalam kebenaran, kebijaksanaan dan keadilan” [bdk. 2Kor. 1:23; Gal. 1:20], (KGK 2153, 2154).

#jika #ya, katakan ya, itu adalah kebenaran. #jika #ya, katakan ya, itu adalah kejujuran. Atau pun sebaliknya, jika tidak, katakan tidak, itu adalah kebenaran, jika tidak, katakan tidak, itu adalah kejujuran. Ada harapan akan kebenaran dan kejujuran yang datang dari nurani kita. Yesus mengorek inti kehidupan ini, yaitu hati dan pikiran manusia sebagai ‘instrumen’ kebenaran dan kebajikan. Sebab bukan dusta dan kepalsuan yang diinginkanNya. Bila hati dan pikiran sudah mantap, kebenaran akan lahir dengan sendirinya. Tidak usah sembarangan bersumpah, tetapi usahakan dan perjuangkan kesucian hati dan pikiran dengan menempatkan Yesus sebagai dasar dari hidup ini.

In te Domine speravi, non confundar in aeternum.
(Pict: More Sky)

Selasa, 07 Februari 2017

Kita Bukanlah Pengecut

Adalah dua pemuda gagah meluangkan waktu pagi untuk membersihkan pekarangan rumah, menyapu dan merapikan halaman. Dedaunan yang berserakan dikumpulkan dengan 'sapu lidi' pada tangan mereka. Bermodalkan dedikasi, mereka mengumpulkan dedaunan itu namun angin datang meniup dan menghamburkan apa yang telah dikumpulkan dengan susah payah. Kebetulan sedang musimnya angin bertiup. Dengan senyum manis, mereka mengumpulkan lagi, tanpa keberatan.


Dalam banyak kesempatan, apa yang kita harapkan, ketika sudah diwujudkan dengan cinta dan pengorbanan besar, tiba-tiba lenyap begita saja, tanpa kita merasakan buahnya terlebih dahulu. Perkawinan atau cita rasa kekeluargaan yang terbangun selama ini, karena satu dan lain hal, runtuh seketika. Bisa jadi karena amarah dan dendam yang berlebihan yang mengobrak-abrik. Tidak diduga sebelumnya akan terjadi seperti itu. Atau, persahabatan dan pertemanan ambruk dalam sekejap karena iri hati dan kedengkian.

Tidak ada jalan lain selain harus membangun kembali semua itu. Lari dari persoalan adalah sikap pengecut. Mesti dengan senyum manis mengumpulkan kembali, supaya pekerjaan atau persoalan tidak tertunda, sehingga keadaan tidak tetap kotor. Kuncinya ialah berdamai dengan diri sendiri, rendah hati, supaya apabila masalah datang tanpa diundang, orang masih gagah berdiri dan menyelesaikannya dengan berani. Sebab tidak mungkin kita tetap berada dalam masalah. Kerendahan hati kiranya merupakan fondasi utama membangun hidup di bumi ini.

#pejuangkecil
(Pict: malesbanget.com)

Minggu, 22 Januari 2017

Dosa besar orang Kristen (Gereja) adalah Perpecahan

Sekedar menguliti perkataan Romo Skia Mangsombe saat khotbah hari ini di gereja, dalam perayaan Ekaristi Mahakudus. Di sela-sela khotbahnya, Romo menegaskan ini: “Ingat, dosa besar orang Kristen adalah Perpecahan.” Saya mengakui ini sebagai kebenaran, sebab memang orang Kristen hingga hari ini terpecah belah. Saya menduga, Romo menuturkan ini berdasarkan bacaan Kitab Suci yang disediakan Gereja untuk direnungkan pada hari ini, 1Kor. 1:10-13,17.


Dalam perikop ini, Rasul Paulus menggarisbawahi perpecahan yang terjadi pada jemaat kala itu. “Yang aku maksudkan ialah, bahwa kamu masing-masing berkata: Aku dari golongan Paulus. Atau aku dari golongan Apolos. Atau aku dari golongan Kefas. Atau aku dari golongan Kristus. Adakah Kristus terbagi-bagi? Adakah Paulus disalibkan karena kamu? Atau adakah kamu dibaptis dalam nama Paulus?” (1Kor. 1:12-13). Bagian akhir perikop ini, Rasul besar ini menulis: “Sebab Kristus mengutus aku bukan untuk membaptis tetapi memberitakan Injil; dan itupun bukan dengan hikmat perkataan, supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia” (1Kor. 1:17).

Rasul Paulus memandang penting keikutsertaan orang Kristen dalam kurban Kristus di salib (ay. 17) dalam hal bersatu denganNya. Maka Gereja mengajarkan:

Kematian di kayu salib adalah kurban yang satu kali untuk selamanya dipersembahkan Kristus, “pengantara antara Allah dan manusia” (1Tim 2:5). Tetapi karena dalam Pribadi ilahi-Nya yang menjadi manusia, “la seakan akan bersatu dengan tiap manusia” (GS 22,2) maka Ia memberikan “kemungkinan kepada semua orang, untuk bergabung dengan misteri Paskah ini, atas cara yang diketahui Allah” (GS 22,5). Yesus mengajak murid murid-Nya, untuk “memanggul salibnya” dan mengikuti Dia (Mat. 16:24), karena “Kristus pun telah menderita untuk kita dan telah meninggalkan teladan bagi kita, supaya kita mengikuti jejak-Nya” (1Ptr 2:21) [KGK 618].

Salib Kristus jangan sampai sia-sia! Kematian Kristus mempersatukan semua orang supaya diselamatkan di dalam Allah. “Dan Aku tidak ada lagi di dalam dunia, tetapi mereka masih ada di dalam dunia, dan Aku datang kepadaMu. Ya Bapa yang kudus, peliharalah mereka dalam namaMu, yaitu namaMu yang telah Engkau berikan kepadaKu, supaya mereka menjadi satu sama seperti Kita” (Yoh. 17:11). Dengan ini, Yesus berdoa kepada BapaNya supaya murid-muridNya bersatu. Maka kepengantaraanNya menjadi mutlak perlu; salib, penderitaan dan kematianNya menjadi simbol baru bagi orang Kristen untuk tidak mengkotak-kotakan diri atau memecah belah persekutuan. Malahan, masing-masing orang dituntut untuk memandang Dia dan mengikuti jejakNya.

Senada dengan Yesus, Rasul Paulus tidak menghendaki perpecahan, melainkan persatuan di dalam Kristus. Gereja itu satu, kudus, katolik dan apostolik. Sifat pertama Gereja tertancap pada “batu karang” Petrus yang anti terhadap perpecahan. Setiap orang yang mengakui Petrus sebagai pemegang kunci (sebagaimana Kristus menyerahkan kunci itu kepadanya) Kerajaan Surga, maka ia menyatakan di dalam dirinya sendiri: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat. 16:16). Ini adalah pengakuan penting akan Yesus yang didorong oleh Roh Kudus untuk menyatakannya sebagai iman yang hidup dalam jemaat, Gereja Kristus. Pengakuan ini sekaligus menolak perpecahan di dalam Tubuh Kristus, sebab semua mata hanya diarahkan kepada Kristus dengan Petrus sebagai yang pertama memandang dan mengakuiNya.

Orang Katolik, tidak boleh ada perpecahan di dalam Tubuh Kristus. Perpecahan merupakan dosa besar yang menghalangi karya Allah di dunia. Kristus menghimpun kita semua supaya diperkenankan masuk Kerajaan Surga. “Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!” (Mat. 4:17). Pertobatan selalu berada dalam proses ini, mendengar suara Kristus dan mengikuti ajakanNya: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan kujadikan penjala manusia” (Mat. 4:19). Pertobatan inilah yang mengikis perpecahan di dalam Tubuh Kristus, GerejaNya. Yesus menunjuk dunia sebagai tempat kita berada sebab kita memang masih berada di dalam dunia. Maka keberadaan kita di sini hendaklah dihayati dalam kesatuan sebagai Tubuh Kristus yang hidup. Dengan cara ini, perpecahan ditiadakan, sementara Allah tetap dimuliakan berkat Kristus yang mati untuk kita semua.

In te Domine speravi, non confundar in aeternum. 

Jumat, 09 Desember 2016

Sebagai Hamba dan Pengantara seperti Maria

Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk. 1:38).

8 Desember adalah Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda. Hari Raya ini dirayakan oleh dan dalam Gereja Katolik atas keyakinan bahwa Maria tidak pernah berada dalam keadaan noda (dosa) sejak awal hidupnya, terhitung mulai saat janin Maria terbentuk dalam rahim Santa Anna, ibunda Maria. Maka untuk menghormati Maria, Bunda Allah, Gereja Katolik mengambil perikop Luk. 1:26-38 untuk dijadikan Bacaan Liturgi bagi seluruh anggota Gereja di dunia pada tanggal 8 Desember ini.


Pada kesempatan yang sama, 8 Desember 2016, kami di Keuskupan Amboina, bergembira bersama para Suster Tarekat Maria Mediatrix yang mensyukuri rahmat Tuhan bagi para anggota tarekat mereka. Ada yang 'menembus' angka 25 Tahun hidup membiara, ada yang mengucapkan atau mengikrarkan Kaul Kekal dan ada pula yang baru menerima Busana Rohani. Acara Syukur ini dibingkai dengan tema: Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu (Luk. 1:38) dan Ekaristi Kudus yang dipimpin oleh Mgr. John Philipus Saklil, PR, menyatukan semua orang. 

Satu yang paling berkesan dalam Ekaristi Kudus itu ialah Homili yang dibawakan oleh Mgr. John Saklil. Dengan tema di atas, Mgr. John memberikan peneguhan yang begitu indah karena menyentuh seluruh aspek kehidupan Gereja Katolik pada umumnya, dan menggugah semangat hidup para Rohaniwan/i serta Biarawan/i, teristimewa para anggota Tarekat Maria Mediatrix yang berbahagia. 

Mgr. John melihat dua hal penting dalam tema yang diusung itu, yaitu hidup sebagai "hamba" dan "pengantara" Tuhan. Baginya, Maria dipilih Allah karena jawaban kesediaan Maria yang mau dan rela menjadi hamba Allah. Seorang hamba tidak lain adalah orang yang bekerja untuk majikan, tuan, bos. Majikan itu telah mengambil hak sang hamba sehingga hamba hanya mengikuti dan melaksanakan perintah majikannya. Ia melayani dan bekerja untuk memenuhi kebutuhan, bahkan keinginan sang majikan. Maria, Bunda Allah, sama! Ia memberikan haknya seutuhnya kepada Allah. Allah telah mengambil hak Maria agar Maria dapat melaksanakan kehendak Allah sepenuhnya. Bagaimana dengan kita, apakah kita dapat menjadi hamba di masa sekarang ini?

Dengan menyerahkan diri kepada Allah sebagai hambaNya, Maria sebetulnya memproyeksikan dirinya sebagai 'pengantara' Tuhan bagi semua orang. Jawaban Maria, "jadilah padaku menurut perkataanmu itu" melahirkan tugas untuk dirinya sendiri, yaitu menjadi pengantara bagi semua orang. Ia menjadi "mediatrix" dalam hidup beriman semua orang Kristen. Rahmat yang diterima Maria adalah rahmat untuk semua orang, yaitu Yesus Kristus. Ia mengandung dan melahirkan serta membesarkan Yesus Kristus agar Puteranya ini menyelamatkan banyak orang. Maka tugas orang beriman adalah menjadi pengantara bagi orang-orang yang belum mengenal Yesus Kristus; inilah tugas dan misi Gereja Katolik sepanjang zaman. 

Mgr. John mengoreksi dan menunjuk tugas kepengantaraan orang beriman itu dalam hidup komunitas dan keluarga. Dalam hidup komunitas, tugas kepengantaraan kita dapat ditunjukkan lewat relasi persaudaraan yang dibangun. Dalam hidup keluarga, tugas kepengantaraan itu dapat dibangun dengan saling mengenal, sebab dekat secara fisik belum tentu saling mengenal. Komunitas adalah juga keluarga, di mana ada rasa saling memiliki, saling mencintai, saling memberi dukungan dan saling berbagi di sana. Ini tugas dan misi kepengantaraan yang paling relevan saat ini. Dengan ini, semangat, gaya dan cara hidup Maria itu menjadi cermin dan pengudusan bagi setiap orang yang belindung di dalam doa-doanya. 

Semoga Bunda Maria senantiasa mendoakan kita supaya kita menjadi hamba dan pengantara keselamatan, kebahagiaan dan kerukunan dalam dunia zaman ini. Sebab Yesus Kristus hidup untuk semua orang, mengorbankan diriNya demi kebahagiaan kita semua. Sebagai seorang calon imam, saya ingin meneladani peran Bunda Maria dalam kehidupan orang beriman di seluruh dunia. Ya Bunda, doakanlah kami kepada Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat kami!

In te Domine speravi, non confundar in aeternum