Senin, 03 April 2017

Dari Petrus untuk siap diutus …


(Suatu Refleksi Panggilan)

Mengapa Petrus? Tuhan, mengapa Petrus dan teman-temannya yang Kau panggil untuk mengikutiMu? Mengapa mereka-mereka itu kemudian Kau utus ke seluruh dunia? Mengapa Kau menyerahkan kunci Kerajaan sorga kepada Petrus? Mengapa Tuhan? Mengapa Kau menjadikan Petrus penjala manusia?

Ya, Yesus membuka sepak terjang hidupNya dari Galilea menuju Yerusalem dengan "membawa-serta" para RasulNya. Petrus menjadi orang pertama dalam barisan rasul itu. Petrus seorang nelayan kampung itu harus berjumpa dengan Penguasa sorga dan dunia (Yesus) di tepi danau Galilea, daerah tempat Petrus mencari dan menemukan nafkahnya. Ke mana lagi ia harus pergi selain danau itu? "Di sinilah Aku menangkap engkau, Petrus!" (Andai saja Yesus bergumam demikian dalam hatiNya yang suci). Petrus tidak ke mana-mana, ia tetap di situ, di tepi danau, membersihkan jalanya yang gagal total menangkap ikan. "Karena kau tidak menangkap apa-apa, sekarang Aku menangkap engkau, Petrus!" (Andai saja Yesus bergumam untuk kedua kalinya di dalam hatiNya yang suci).


Tapi butuh sedikit proses untuk menangkap Petrus. Yesus perlu bercakap-cakap, meminjam perahu Petrus untuk mengajar orang banyak dari atas perahu itu. Pada akhirnya, Petrus dikagetkan dengan kata-kata ini: "(duc in altum) Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Yang benar saja Kau, Guru? Petrus ini tidak mendapatkan apa-apa lho selama sepanjang malam tadi. "Ya sudahlah, Guru yang bilang, saya ikut saja" (kurang lebih begitu Petrus menanggapi pernyataan Guru - hehe). Apa yang terjadi? Hasil tangkapannya wow, ikannya banyak, perahu tak muat - hampir tenggelam lagi. "O o.. ini bukan sekedar Guru, ini Tuhan! Ya Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang yang berdosa!"

Yesus, Guru yang adalah Tuhan itu melihat ketidakpercayaan dan kehinaan Petrus sebagai suatu ketakutan dalam dirinya. "Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia." Yesus menguatkan Petrus, membentuk keyakinan dalam dirinya, supaya Petrus mengatakan "ya" dan mengikutiNya. Dan memang, tanpa basa-basi, Petrus dan teman-temannya mulai mengikuti Tuhan. Permulaan ini sekaligus tanda Petrus meninggalkan perahu dan jalanya, meninggalkan rumahnya, meninggalkan keluarganya (anak isterinya - mungkin) dan segalanya. Petrus tidak sekedar bertolak ke danau yang dalam, tetapi bersama Tuhan bertolak ke danau yang juah lebih dalam dan luas, yaitu dunia. Bagaimana ia bertolak?

Bagaimana ia bertolak? Tuhan adalah pegangannya, Tuhan berdiri di dalam perahunya, Tuhan mengarahkan perahunya, dan Tuhan sendiri membantu menangkap ikan-ikan ke dalam perahunya. Kalau Tuhan ada di pihak Petrus, tidak ada keraguan sedikitpun untuk menebarkan jala pada air yang dalam, sedalam yang dikehendaki Tuhan. Tuhan sendiri berkehendak, maka Ia pulalah yang mempersiapkan Petrus sebaik-baik mungkin untuk menyaksikan keajaiban yang dikerjakanNya. Start-nya dimulai dari Tuhan dan finish-nya pada Tuhan. Sementara Petrus, Petrus menjadi alat di tangan Tuhan untuk menjala dan menjala. Jangan ragukan Tuhan, Ia akan menyelesaikan pekerjaan yang harus diselesaikanNya bersama Petrus.


"Aduh, Tuhan, Petrus itu kan lemah, plin-plan, manusia biasa, gampang jatuh, kan bisa berdosa juga?" Silahkan sebut rentetan keterbatasan Petrus, dan Tuhan menjawab: "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu." Keterbatasan justru menjadi 'lahan subur' Tuhan untuk mengoptimalkan utusan-utusanNya. Bukankah Petrus sudah menyatakan diri di hadapan Tuhan sebagai pendosa di dalam perahunya dulu? Bukankah ia sendiri sadar akan keterbatasan dirinya? Maka hanya orang-orang pesimis dan tak berimanlah yang meragukan kehebatan Tuhan! Kalaupun mereka beriman, iman mereka tak berakar sama sekali.

Mengapa Petrus?

Tuhan memilih, Tuhan mempersiapkan. PanggilanNya kepada Petrus adalah sentuhan istimewa yang mengakar di dalam hati si penjala manusia itu. Siapapun tidak dapat mencabut rahmat panggilan itu dari dalam hatinya, karena sudah menyatu dan tak bisa diceraikan lagi. Petrus, si manusia biasa itu, memberikan hati dan dirinya untuk ditempa Tuhan sesuai kehendakNya. Ia dipanggil supaya menjadi baru, bukan seperti sebelumnya, dimana ia belum memiliki kedekatan dengan Tuhan, belum merasakan salib Tuhan yang kelak dipikulnya. Ia dipanggil karena Tuhan menghendaki dirinya menjadi penjala yang mengangkut semua orang ke dalam perahu Tuhan. Untuk panggilan yang sedemikian itu, Tuhan mempersiapkan dia selama Ia berada di dunia ini. Tiga tahun (sesuai waktu ‘keberadaan’ Tuhan) kiranya menjadi waktu yang cukup bagi Petrus untuk (dalam kelemahannya) percaya, mengerti, dan memahami secara pasti tugas perutusannya sendiri. Jadi, mengapa Petrus? Karena Tuhan memilihnya!

Petrus sudah mati, Petrus-Petrus sekarang siapa?


Petrus yang dulu itu sudah mati sebagai martir, menumpahkan darahnya demi Tuhan yang memanggilnya. Lalu siapakah pengganti setelah zamannya? Well, mengenai pribadi dan ‘kekuasaan’nya terdapat banyak diskusi panjang-lebar dan tiada hentinya, sudah sering digalakkan di mana-mana. Tapi pengganti-pengganti Petrus di sini ialah mereka-mereka yang memberikan dirinya secara utuh kepada Tuhan. Itulah para Imam Tuhan, para calon Imam, yang dengan kehendak bebas menyatakan kesediaan untuk merajut panggilan Tuhan dalam diri mereka. Ada yang bilang, mereka adalah orang-orang gila zaman ini. Entah apa maksud ‘bilang’-an orang itu, yang pasti mereka siap berjalan bersama Tuhan, lebih dekat di sisi kiri-kananNya, menjala ikan-ikan.


Dulu itu Petrus mengikuti Tuhan tiga tahun, sekarang petrus-petrus muda mengikuti Tuhan bertahun-tahun. Dulu itu, Petrus berjalan bersama Tuhan untuk mengenalNya, sekarang itu petrus-petrus muda duduk di bangku kuliah, bangku kapel, bangku meja makan, bangku perpustakaan, bangku persaudaraan, bangku kekeluargaan, bangku komunitas, bangku intelektualitas, bangku spiritualitas, bangku humanitas, bangku sosialitas, bangku solidaritas, bangku altruistik, bangku empatik, bangku simpatik, bangku dunia, untuk mengenalNya. Mereka berjalan bersama Tuhan, bukan berjalan di tempat, tetapi berpindah tempat duduk dari satu bangku ke bangku yang lainnya. Mereka mengenal Tuhan dengan cara itu, dengan kebebasan sejati dan dengan kepastian bahwa bahtera Tuhan untuk keselamatan dan perdamaian dunia. Sama seperti Petrus, mereka lemah, manusia biasa, masih butuh banyak doa dan motivasi yang membangun untuk cinta mereka yang utuh kepada Tuhan. Sepanjang waktu, selama hidup mereka, ibadat-ibadat umum dan pemecahan roti menjadi kebiasaan dan makanan mereka; inilah sukacita mendalam karena mereka tinggal di dalam Rahim Tuhan. Mungkin mereka takkan mati seperti Petrus, bahkan bisa berbalik arah dan bertemu Tuhan di persimpangan jalan menuju Rumah tempat semua orang pergi, lalu justru bertanya kepadaNya “Quo vadis Domine?” tetapi sekali mereka ditetapkan olehNya menjadi utusanNya, mereka takkan dapat mengingkari itu. Mereka akan sampai pada suatu masa dimana Tuhan menyapa mereka secara khusus, dalam intimitas yang serius, untuk diteguhkan kembali.

Wahai petrus-petrus muda, untuk apa kalian berlama-lama duduk di bangku-bangku itu? Apa kalian takkan lelah duduk dan duduk? Ternyata mereka harus berlama-lama di sana karena mereka harus pula lebih banyak mengenal Tuhan. Jikalau mereka lelah, mereka bukanlah pengganti petrus, mereka bukanlah ‘mereka yang siap diutus’ tetapi merekalah disiapkan Tuhan untuk hal lain yang Ia telah tetapkan pula. Jadi mereka harus ada di sana, duduk di sana, selama mungkin, sampai yang mereka katakan, yang mereka lakukan hanyalah Tuhan dan kehendakNya. Tidakkah mereka memiliki kesempatan untuk merasakan pelukan Tuhan yang mesra dan hangat selama mungkin? Tentu saja! Jatuh-bangun kemudian adalah hal biasa, pembentukan diri dan komitmen, keikhlasan menyertai, dan kesediaan ada di dalamnya. Bahwa mereka harus lebih banyak berbicara dengan dan tentang Tuhan sebagai proses dan tujuan pengenalan, serta lebih banyak berpikir tentang Tuhan. Goalnya jelas, supaya mereka kelak memperoleh banyak ikan dan membuktikan keselamatanNya di tengah-tengah dunia, tempat yang lebih dalam. J


PAX DOMINI SIT SEMPER VOBISCUM. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar