(Suatu Refleksi
Panggilan)
Mengapa Petrus? Tuhan, mengapa Petrus dan teman-temannya
yang Kau panggil untuk mengikutiMu? Mengapa mereka-mereka itu kemudian Kau utus
ke seluruh dunia? Mengapa Kau menyerahkan kunci Kerajaan sorga kepada Petrus?
Mengapa Tuhan? Mengapa Kau menjadikan Petrus penjala manusia?
Ya, Yesus membuka sepak terjang hidupNya dari Galilea
menuju Yerusalem dengan "membawa-serta" para RasulNya. Petrus menjadi
orang pertama dalam barisan rasul itu. Petrus seorang nelayan kampung itu harus
berjumpa dengan Penguasa sorga dan dunia (Yesus) di tepi danau Galilea, daerah
tempat Petrus mencari dan menemukan nafkahnya. Ke mana lagi ia harus pergi
selain danau itu? "Di sinilah Aku menangkap engkau, Petrus!" (Andai saja
Yesus bergumam demikian dalam hatiNya yang suci). Petrus tidak ke mana-mana, ia
tetap di situ, di tepi danau, membersihkan jalanya yang gagal total menangkap
ikan. "Karena kau tidak menangkap apa-apa, sekarang Aku menangkap engkau,
Petrus!" (Andai saja Yesus bergumam untuk kedua kalinya di dalam hatiNya
yang suci).
Tapi butuh sedikit proses untuk menangkap Petrus. Yesus perlu bercakap-cakap, meminjam perahu Petrus untuk mengajar orang banyak dari atas perahu itu. Pada akhirnya, Petrus dikagetkan dengan kata-kata ini: "(duc in altum) Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan." Yang benar saja Kau, Guru? Petrus ini tidak mendapatkan apa-apa lho selama sepanjang malam tadi. "Ya sudahlah, Guru yang bilang, saya ikut saja" (kurang lebih begitu Petrus menanggapi pernyataan Guru - hehe). Apa yang terjadi? Hasil tangkapannya wow, ikannya banyak, perahu tak muat - hampir tenggelam lagi. "O o.. ini bukan sekedar Guru, ini Tuhan! Ya Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang yang berdosa!"
Yesus, Guru yang adalah Tuhan itu melihat
ketidakpercayaan dan kehinaan Petrus sebagai suatu ketakutan dalam dirinya.
"Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia."
Yesus menguatkan Petrus, membentuk keyakinan dalam dirinya, supaya Petrus
mengatakan "ya" dan mengikutiNya. Dan memang, tanpa basa-basi, Petrus
dan teman-temannya mulai mengikuti Tuhan. Permulaan ini sekaligus tanda Petrus
meninggalkan perahu dan jalanya, meninggalkan rumahnya, meninggalkan
keluarganya (anak isterinya - mungkin) dan segalanya. Petrus tidak sekedar
bertolak ke danau yang dalam, tetapi bersama Tuhan bertolak ke danau yang juah
lebih dalam dan luas, yaitu dunia. Bagaimana ia bertolak?
Bagaimana ia bertolak? Tuhan adalah pegangannya, Tuhan
berdiri di dalam perahunya, Tuhan mengarahkan perahunya, dan Tuhan sendiri
membantu menangkap ikan-ikan ke dalam perahunya. Kalau Tuhan ada di pihak
Petrus, tidak ada keraguan sedikitpun untuk menebarkan jala pada air yang
dalam, sedalam yang dikehendaki Tuhan. Tuhan sendiri berkehendak, maka Ia
pulalah yang mempersiapkan Petrus sebaik-baik mungkin untuk menyaksikan
keajaiban yang dikerjakanNya. Start-nya dimulai dari Tuhan dan finish-nya pada
Tuhan. Sementara Petrus, Petrus menjadi alat di tangan Tuhan untuk menjala dan menjala.
Jangan ragukan Tuhan, Ia akan menyelesaikan pekerjaan yang harus
diselesaikanNya bersama Petrus.
"Aduh, Tuhan, Petrus itu kan lemah, plin-plan,
manusia biasa, gampang jatuh, kan bisa berdosa juga?" Silahkan sebut
rentetan keterbatasan Petrus, dan Tuhan menjawab: "Bukan kamu yang memilih
Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya
kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu
minta kepada Bapa dalam namaKu, diberikanNya kepadamu." Keterbatasan
justru menjadi 'lahan subur' Tuhan untuk mengoptimalkan utusan-utusanNya.
Bukankah Petrus sudah menyatakan diri di hadapan Tuhan sebagai pendosa di dalam
perahunya dulu? Bukankah ia sendiri sadar akan keterbatasan dirinya? Maka hanya
orang-orang pesimis dan tak berimanlah yang meragukan kehebatan Tuhan! Kalaupun
mereka beriman, iman mereka tak berakar sama sekali.
Mengapa Petrus?
Tuhan memilih, Tuhan mempersiapkan. PanggilanNya kepada
Petrus adalah sentuhan istimewa yang mengakar di dalam hati si penjala manusia
itu. Siapapun tidak dapat mencabut rahmat panggilan itu dari dalam hatinya,
karena sudah menyatu dan tak bisa diceraikan lagi. Petrus, si manusia biasa
itu, memberikan hati dan dirinya untuk ditempa Tuhan sesuai kehendakNya. Ia dipanggil
supaya menjadi baru, bukan seperti sebelumnya, dimana ia belum memiliki
kedekatan dengan Tuhan, belum merasakan salib Tuhan yang kelak dipikulnya. Ia dipanggil
karena Tuhan menghendaki dirinya menjadi penjala yang mengangkut semua orang ke
dalam perahu Tuhan. Untuk panggilan yang sedemikian itu, Tuhan mempersiapkan
dia selama Ia berada di dunia ini. Tiga tahun (sesuai waktu ‘keberadaan’ Tuhan)
kiranya menjadi waktu yang cukup bagi Petrus untuk (dalam kelemahannya) percaya,
mengerti, dan memahami secara pasti tugas perutusannya sendiri. Jadi, mengapa Petrus?
Karena Tuhan memilihnya!
Petrus sudah mati, Petrus-Petrus sekarang siapa?
Petrus yang dulu itu sudah mati sebagai martir, menumpahkan darahnya demi Tuhan yang memanggilnya. Lalu siapakah pengganti setelah zamannya? Well, mengenai pribadi dan ‘kekuasaan’nya terdapat banyak diskusi panjang-lebar dan tiada hentinya, sudah sering digalakkan di mana-mana. Tapi pengganti-pengganti Petrus di sini ialah mereka-mereka yang memberikan dirinya secara utuh kepada Tuhan. Itulah para Imam Tuhan, para calon Imam, yang dengan kehendak bebas menyatakan kesediaan untuk merajut panggilan Tuhan dalam diri mereka. Ada yang bilang, mereka adalah orang-orang gila zaman ini. Entah apa maksud ‘bilang’-an orang itu, yang pasti mereka siap berjalan bersama Tuhan, lebih dekat di sisi kiri-kananNya, menjala ikan-ikan.
Dulu itu Petrus mengikuti Tuhan tiga tahun, sekarang
petrus-petrus muda mengikuti Tuhan bertahun-tahun. Dulu itu, Petrus berjalan
bersama Tuhan untuk mengenalNya, sekarang itu petrus-petrus muda duduk di
bangku kuliah, bangku kapel, bangku meja makan, bangku perpustakaan, bangku
persaudaraan, bangku kekeluargaan, bangku komunitas, bangku intelektualitas,
bangku spiritualitas, bangku humanitas, bangku sosialitas, bangku solidaritas,
bangku altruistik, bangku empatik, bangku simpatik, bangku dunia, untuk
mengenalNya. Mereka berjalan bersama Tuhan, bukan berjalan di tempat, tetapi
berpindah tempat duduk dari satu bangku ke bangku yang lainnya. Mereka mengenal
Tuhan dengan cara itu, dengan kebebasan sejati dan dengan kepastian bahwa bahtera
Tuhan untuk keselamatan dan perdamaian dunia. Sama seperti Petrus, mereka
lemah, manusia biasa, masih butuh banyak doa dan motivasi yang membangun untuk cinta
mereka yang utuh kepada Tuhan. Sepanjang waktu, selama hidup mereka, ibadat-ibadat
umum dan pemecahan roti menjadi kebiasaan dan makanan mereka; inilah sukacita
mendalam karena mereka tinggal di dalam Rahim Tuhan. Mungkin mereka takkan mati
seperti Petrus, bahkan bisa berbalik arah dan bertemu Tuhan di persimpangan
jalan menuju Rumah tempat semua orang pergi, lalu justru bertanya kepadaNya “Quo vadis Domine?” tetapi sekali mereka
ditetapkan olehNya menjadi utusanNya, mereka takkan dapat mengingkari itu. Mereka
akan sampai pada suatu masa dimana Tuhan menyapa mereka secara khusus, dalam
intimitas yang serius, untuk diteguhkan kembali.
Wahai petrus-petrus muda, untuk apa kalian berlama-lama
duduk di bangku-bangku itu? Apa kalian takkan lelah duduk dan duduk? Ternyata
mereka harus berlama-lama di sana karena mereka harus pula lebih banyak
mengenal Tuhan. Jikalau mereka lelah, mereka bukanlah pengganti petrus, mereka
bukanlah ‘mereka yang siap diutus’ tetapi merekalah disiapkan Tuhan untuk hal
lain yang Ia telah tetapkan pula. Jadi mereka harus ada di sana, duduk di sana,
selama mungkin, sampai yang mereka katakan, yang mereka lakukan hanyalah Tuhan
dan kehendakNya. Tidakkah mereka memiliki kesempatan untuk merasakan pelukan
Tuhan yang mesra dan hangat selama mungkin? Tentu saja! Jatuh-bangun kemudian
adalah hal biasa, pembentukan diri dan komitmen, keikhlasan menyertai, dan
kesediaan ada di dalamnya. Bahwa mereka harus lebih banyak berbicara dengan dan
tentang Tuhan sebagai proses dan tujuan pengenalan, serta lebih banyak berpikir
tentang Tuhan. Goalnya jelas, supaya
mereka kelak memperoleh banyak ikan dan membuktikan keselamatanNya di
tengah-tengah dunia, tempat yang lebih dalam. J
PAX
DOMINI SIT SEMPER VOBISCUM.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar