Rabu, 30 November 2016

Kerajaan Sorga seperti Mutiara

Ajaran Yesus:

[Demikian pula] "hal Kerajaan Sorga itu seumpama seorang pedagang yang mencari mutiara indah. Setelah ditemukannya mutiara yang sangat berharga, ia pun pergi menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu" (Mat. 13:45-46).
======================


Di zaman Perjanjian Baru (zaman Yesus), mutiara menjadi perhiasan yang terhitung amat berharga, bernilai tinggi, mewah; bahkan dalam perumpamaan itu, seorang pedagang rela menjual seluruh miliknya lalu membeli mutiara itu.

Yesus mengajak para pengikutNya untuk menatap dan memusatkan perhatian pada hal ini, Kerajaan Sorga. Layaknya mutiara indah yang dicari-cari orang (pedagang itu) sampai mengorbankan segala harta benda lain, Kerajaan Sorga pun mesti demikian.

Mencari harta Sorga, melepaskan harta duniawi. Mencari keselamatan, meninggalkan kesesatan. Mencari upah surgawi, membuang upah dosa. Mencari kebahagiaan sejati, mengorbankan diri sendiri. Mencari kebenaran, mematikan kesalahan. Sebab tidak mungkin kita mengabdi pada dua tuan sekaligus.


In te Domine speravi non confundar in aeternum
(Pict: Odyssey)

Senin, 28 November 2016

Adven, Masa Tuhan Memanggilmu

Ajaran Yesus:

"Bukan orang sehat yang memerlukan dokter, melainkan orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang saleh, melainkan orang berdosa" (Mrk. 2:17).
==============

Tidak heran Yesus memilih para pendosa menjadi murid-muridNya supaya bertobat dan diselamatkan. Ini karena setiap orang berharga bagi Tuhan.

Meskipun sisi gelap terlihat lebih besar pada seseorang, namun Tuhan memilih sisi terang yang mungkin sangat-sangat kecil padanya. Pilihan Tuhan ini menyempurnakan orang itu, menimbulkan motivasi besar dalam dirinya untuk bertobat.

ADVEN, adalah masa untuk memeriksa diri kita, melihat sisi terang yang kecil dan gelap yang besar itu, dan mengambil langkah untuk bertobat lalu menjadi murid Kristus yang sejati. NATAL, adalah kesempatan untuk menerima Kristus yang lahir dalam keadaan bersih.

In te Domine speravi non confundar in aeternum

Minggu, 27 November 2016

Mengenal Masa Adven Lebih Dekat

HARI MINGGU ADVEN I,
Yes. 2:1-5, Mzm. 122:1-2.4-5.6-7.8-9; Ul. 1, Rm. 13:11-14, Mat. 24:37-44

"[Tetapi] ketahuilah ini: Jika tuan rumah tahu pada waktu mana pencuri datang waktu malam, pastilah ia berjaga-jaga, dan tidak membiarkan rumahnya dibongkar. Sebab itu, hendaklah kamu selalu siap siaga karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga" (Mat. 24:43-44)

Perjanjian Baru

Yesus memulai nasihat-Nya ini dengan menyebut kembali peristiwa pada zaman Nuh. Sedikit saja sentilan Yesus mengenai peristiwa air bah itu; kemungkinan besar mereka yang hadir saat itu telah memahami dengan rinci peristiwa air bah yang dialami Nuh dan semua orang lain yang pada zaman itu. Bahwa pada zaman itu, orang makan dan minum, kawin dan mengawinkan, namun pada saat Nuh masuk ke dalam bahtera yang dibuatnya mereka semua dilenyapkan, kecuali Nuh dan keluarganya beserta hal-hal lain yang dibawanya. Sama halnya dengan kedatangan Anak Manusia kelak, tidak ada orang yang mengetahuinya. Karena itu Yesus memberi nasihat supaya berjaga-jaga dan bersiaga setiap saat.

Mengingat bahwa Hari Tuhan itu datang tanpa diketahui oleh siapa pun, Rasul Paulus berpesan kepada jemaat di Roma, "Saudara-saudara, kamu mengetahui keadaan waktu sekarang. Saatnya telah tiba kamu bangun dari tidur. Sebab sekarang ini keselamatan sudah lebih dekat pada kita dari pada waktu kita baru mulai percaya. Malam sudah hampir lewat, dan sebentar lagi pagi akan tiba" (Rm. 13:11). 

Tidur, sama dengan keadaan makan dan minum, kawin dan mengawinkan (zaman Nuh), pesta pora dan kemabukan, percabulan dan hawa nafsu, perselisihan dan iri hati (Rm. 13:13). Ini yang terjadi di kota Roma kala itu. Karenanya Rasul Paulus berpesan agar setiap orang, jemaat Kristen, bangun dari tidur. Sebaliknya, pagi akan tiba, maka Rasul Paulus berpesan lagi supaya orang menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan senjata terang, yaitu Tuhan Yesus Kristus, dengan berlaku sopan seperti pada siang hari (Rm. 13:12, 14). 

Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama, Firman yang dinyatakan kepada nabi Yesaya telah menyebutkan keadaan terang, siang hari itu, kepada bangsa Israel. Tuhan sendiri akan tampil sebagai hakim atas semua suku bangsa. Tidak akan ada lagi peperangan sebab pedang-pedang akan dijadikan mata bajak dan tombak-tombak menjadi pisau pemangkas. Bangsa yang satu tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa yang lain, dan tidak akan ada lagi latihan perang. Maka marilah berjalan dalam terang Tuhan! (Yes. 2:4-5). 

Kitab Mazmur memperjelas keadaan itu, "Mari kita pergi ke rumah Tuhan. Sekarang kaki kami berdiri di gerbangmu, hai Yerusalem. Damai bagi orang yang mencintai Engkau. Semoga damai turun atas wilayahmu dan kesentosaan atas purimu" (Mzm. 122:1,2,6,7). Ini adalah doa kesejahteraan untuk Yerusalem, kota pilihan dan tempat kediaman Allah di dalam bait-Nya yang kudus. 

Masa Adven


Kita merayakan Masa Adven berarti mempersiapkan diri untuk menyambut Sang Terang, yaitu Yesus Kristus yang akan datang pada akhir zaman dan mengenang kembali kelahiran-Nya ke dunia dua ribu tahun yang lalu. Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang, dalam buku Misa Hari Minggu dan Hari Raya, terbitan Kanisius, menjelaskan dengan baik maksud Masa Adven demikian: 

Masa Adven merupakan masa bagi umat beriman untuk mempersiapkan Natal. Kata "Adven" sendiri berasal dari bahasa kata Lating "Adventus" yang berarti kedatangan. Pada intinya, Masa Adven menantikan kedatangan Tuhan. Pada Minggu pertama dan kedua, Masa Adven lebih diarahkan pada penantian kedatangan Tuhan yang kedua, yakni kedatangan Tuhan pada akhir zaman. Pada akhir zaman itu, Tuhan Yesus Kristus akan datang kembali dalam kemuliaan dan kejayaan. Ia akan datang untuk mengadili orang yang hidup dan yang mati. Itulah sebabnya, bacaan-bacaan pada dua minggu pertama dari Masa Adven berfokus pada tema akhir zaman dan penghakiman. Sedangkan pada Minggu ketiga dan keempat, lebih khusus lagi mulai tanggal 17 Desember, fokus Masa Adven lebih diarahkan pada kedatangan Tuhan yang pertama, yang puncaknya dirayakan pada Hari Raya Natal. Ciri khas kedatangan Tuhan yang pertama ialah bahwa Tuhan Yesus Kristus datang dalam kelemahan dan kemiskinan.

Masa Adven merupakan masa persiapan yang diwarnai oleh semangat penantian penuh pengharapan dan sukacita sebab Tuhan datang untuk menyelamatkan umat-Nya. Namun, sekaligus dalam Masa Adven ini umat beriman perlu menanggapi kedatangan Tuhan dengan semangat tobat dan berjaga-jaga. Tokoh-tokoh suci, seperti Yesaya, Yohanes Pembaptis, Elisabet, Zakharia, dan terutama Bunda Maria dan Bapa Yusuf, dapat menjadi teladan dan inspirasi bagi kita sebagai murid-murid Yesus Kristus untuk mengikuti-Nya.

Petunjuk liturgis: selama Masa Adven, warna liturgi ialah ungu cerah dan khusus pada Minggu Adven III dapat menggunakan warna merah jambu. Nyanyian-nyanyian sebaiknya bertemakan pengharapan eskatologis untuk Minggu Adven I dan II, serta bertemakan kerinduan akan kehadiran akan kelahiran Tuhan Yesus untuk Minggu Adven III dan IV. Pilihan dekorasi sebaiknya yang sederhana, misalnya menggunakan daun-daunan dan ranting.
(Komisi Liturgi Keuskupan Agung Semarang)

Yesus berpesan agar kita senantiasa berjaga-jaga dan bersiaga menyambut kedatangan-Nya pada akhir zaman. Masa Adven menjadi kesempatan yang baik untuk memulai pertobatan dan menerima pengampunan dari Allah. Sekiranya kita terus berjaga-jaga dengan pertobatan dan berdoa serta berkarya dan beramal. Sudah seharusnya kita bangun dari tidur dan menggunakan perlengkapan senjata terang, yaitu Yesus, agar terang dan damai itu tinggal di antara kita sehingga kita didapati layak menghadap Anak Manusia pada kedatangan-Nya kembali.

In te Domine speravi non confundar in aeternum
(Pict: Mirifica News)

Sabtu, 26 November 2016

Siapa itu Melkisedek?

Melkisedek tampil dalam Kitab Suci dengan sepintas lalu saja. Pribadi ini diliputi suatu rahasia. Ia adalah raja kota Yerusalem, yaitu kota yang kemudian dipilih Tuhan sebagai tempat tinggalNya, Bait Allah. 
Kitab Kejadian 14:18 menyebut secara khusus pribadi ini. Melkisedek, seorang raja Salem, membawa roti dan anggur; ia seorang imam Allah Yang Mahatinggi. Melkisedek ini yang memberkati Abram (Abraham). Setelah memberkati Abram, ia diberi sepersepuluh dari semuanya.
Kitab Mazmur mengulangi jabatan pribadi ini sebagai imam, "TUHAN telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: Engkau adalah imam untuk selama-lamanya, menurut Melkisedek" (Mzm. 110:4).
Melkisedek, imam Allah Yang Mahatinggi itu, dipandang sebagai pralambang dari Yesus, karena:

  • Ia mempersembahkan roti dan anggur kepada Allah.
  • Ia seakan-akan tak berawal dan tak berkeseduhan (lih. Ibr. 6:20, 7:1-17).


Catatan tambahan:
Menurut sejumlah besar Pujangga Gereja, Salem itu ialah kota Yerusalem. Nama "Melkisedek" adalah nama Kanaan, yaitu "Melki-Zedek." Melkisedek juga diperkenalkan sebagai pralambang raja Daud. Daud sendiri adalah pralambang Mesias, raja dan imam. Surat kepada orang Ibrani menyematkan imamat Melkisedek pada imamat Kristus. Para Pujangga Gereja juga mengolah dan memperkaya tafsiran alegoris mengenai tindakan Melkisedek yang membawa roti dan anggur kepada Abraham sebagai Ekaristi dan bahwa roti dan anggur itu mengibaratkan korban  yang tak lain adalah korban Ekaristi. Malahan mereka menambahkan bahwa dalam diri Melkisedek Anak Allah telah menampakkan diriNya. Kej. 14:18-20 itu nampaknya merupakan sisipan yang berasal dari zaman kemudian. Melkisedek nampak sebagai teladan imam besar di masa sesudah pembuangan. Di masa itu imam besar memang telah menjadi kepala para imam. Keturunan Abraham membayar kepadanya bagian sepersepuluh. 

Sumber bacaan: Kitab Suci Katolik, Catatan Kuliah Perjanjian Lama (Rm. Bohm, MSC)

In te Domine speravi
(Pict: SANG SABDA)

Berjaga sambil Berdoa untuk Hari Tuhan

Berjaga-jagalah senantiasa sambil berdoa, supaya kamu beroleh kekuatan untuk luput dari semua yang akan terjadi itu, dan supaya kamu tahan berdiri di hadapan Anak Manusia (Luk. 21:36).



Pesan Yesus ini mengajak orang Kristen untuk melihat 'masa depan'nya di kala ia berhadapan dengan Anak Manusia pada kedatanganNya yang kedua kali. Sambil menanti penuh rindu, sikap berjaga-jaga sambil berdoa adalah gaya yang khas bagi orang Kristen. Sikap berjaga-jaga sambil berdoa mendatangkan kekuatan, memampukan orang Kristen untuk tahan berdiri di hadapan Anak Manusia. 

Santo Paulus menyerukan hal yang sama, "Tetaplah berdoa" (1Tes. 5:17). Juga, "Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus" (Ef. 6:18). Dan menurut Santo Paulus, doa berisikan ucapan syukur kepada Yesus yang memberikan Bapa untuk orang beriman, "Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita" (Ef 5:20).

Setiap hari, setiap saat, orang Kristen berdoa dan mendengarkan Sabda dalam Ekaristi Kudus, bahkan di jalan-jalan, di pasar dan di mana pun ia berada, ia dapat berdoa kepada Yesus. Yesus menghubungkan kebiasaan berdoa ini dengan kedatanganNya sendiri. Kebiasaan ini tidak lain adalah usaha untuk selalu dekat denganNya, sebab di dalam doa (Ekaristi) orang Kristen selalu berjumpa dengan Bapa dan Putera dan Roh Kudus, intim dan tak terpisahkan, bersatu padu. 

Kebiasaan berjaga-jaga sambil berdoa mengungkapkan kesiapan diri, jiwa dan raga, di hadapan Anak Manusia. Hari Tuhan (Luk. 21:34) yang disebutkan Yesus dapat disambut dengan baik apabila orang Kristen terbiasa dengan itu. Bagi Yesus, hari Tuhan sudah pasti akan menimpa semua orang (Luk. 21:35). Dan, ketika Santo Lukas berbicara tentang "hari Tuhan" dalam injilnya (Luk. 21:34, Kis. 2:20), ia menunjuk pada hari kedatangan Tuhan (maranatha) dalam kemuliaan, "Hari Yahwe," (Am. 5:18 dst.). Hari Tuhan adalah hari kedatangan Yesus, Anak Manusia, kelak (bdk. Mat. 24:1 dst. 1Kor. 1:18 dst.). 

Yesus akan kembali sebagaimana yang dikatakanNya sendiri (Yoh. 14:3, 18, 28). Malaikat mempertegas perkataan Yesus itu, "Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke Sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kami melihat Dia naik ke Sorga" (Kis. 1:11). Dalam Pengakuan Iman Apostolik dan Pengakuan Iman Nisea-Konstantinopel, orang Kristen percaya dan berseru:


Pada hari ketiga bangkit
dari antara orang mati;
yang naik ke surga,
duduk di sebelah kanan Allah
Bapa yang mahakuasa;
dari situ Ia akan datang
mengadili orang hidup dan mati.

Pada hari ketiga Ia bangkit,
menurut Kitab Suci.
Ia naik ke surga, duduk di sisi Bapa.
Ia akan kembali dengan mulia,
mengadili orang yang hidup dan yang
mati;


Kedatangan kembali Tuhan Yesus, Anak Manusia, 'mewajibkan' orang Kristen untuk selalu dan senantiasa berjaga-jaga sambil berdoa. Iman menutut doa, sebab doalah nafas iman yang hidup. Dari doa, orang Kristen menemukan pola hidup seperti Kristus, sebab di dalam doa ia berjumpa dengan Kristus, jalan, kebenaran dan hidup. 


Doa resmi orang Kristen adalah Ekaristi Kudus. Dalam Ekaristi Kudus orang Kristen menantikan kedatangan Yesus yang mulia pada akhir zaman (bdk. 1Kor 11:26). Dalam perayaan Ekaristi Kudus pula, orang Kristen melagukan anamnesis setelah konsekrasi untuk mengingat kembali sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus serta menantikan kedatanganNya untuk yang kedua kali. Dari Ekaristi Kudus, doa resmi Gereja itu, orang Kristen menemukan gaya hidup Tuhannya dan memperoleh semangat untuk membangun hidup sepertiNya, berjaga-jaga dan melakukan kehendakNya sampai kedatanganNya kembali. 
Santo Paulus berpesan, "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu" (1Tes. 5:18). "Bertekunlah dalam doa dan dalam pada itu berjaga-jagalah sambil mengucap syukur" (Kol. 4:2).
"Kita tidak diwajibkan untuk tetap bekerja, berjaga-jaga, dan berpuasa. Tetapi adalah satu hukum bagi kita, supaya berdoa dengan tidak putus-putusnya" (Evagrius, cap. pract. 49).

In te Domine speravi

Dari Yunani ke Indonesia, dari Perang ke Politik

Satu pepatah manis yang dituliskan oleh abangku, Raymond Owen Narahawarino, pada 24 November 2016 lalu di facebooknya bunyinya begini, "Perang adalah politik dengan darah dan politik adalah perang tanpa darah." Sekali lagi, perang adalah politik dengan darah, sementara politik adalah perang tanpa darah. Ada dua istilah penting yang saling berkaitan dalam pepatah sederhana itu, perang dan politik

Lazimnya, orang mengenal perang sebagai pertikaian dengan mengandalkan senjata, alat tajam atau tumpul untuk menunjukkan kekuasaannya. Termasuk di sana adalah kekuatannya. Secara fisik, orang hendak menunjukkan dominasinya terhadap pihak lain.

Dalam perkembangannya, perang tidak lagi terbatas pada kekuatan fisik tetapi juga non fisik. Barangkali penghargaan terhadap nilai kemanusiaan memudarkan 'kekuatan fisik' yang diandalkan dalam perang. Sebaliknya kekuatan non fisik ditonjolkan. Meski begitu, kecenderungan untuk memanfaatkan kekuatan fisik pun masih ada. Ingat, perang ini berlaku pada saat mana pun bila orang telah kehilangan sabar dan kebaikannya.

Yunani sebagai pencetus 'politik'

Politik. Politik itu apa? Politik, seperti pepatah di atas, adalah perang tanpa darah. Politik itu usaha, cara, seni, ilmu untuk mencapai kekuasaan secara hukum, pun tanpa hukum. Begitu kira-kira yang dimaksudkan dalam pengertian Bahasa Indonesia. Namun, lebih dalam dari itu, melihat tujuannya, politik dimaksudkan untuk kesejahteraan bersama, bonum comune

Bila menelusuri kata "politik" itu maka orang akan menemukan bahwa ini adalah istilah serapan dari bangsa lain, yaitu Yunani. Orang-orang Yunani sangat dekat dengan istilah polis, yang berarti negara atau kota kecil. Namun sesungguhnya istilah ini ditujukan kepada orang-orang yang berdiam di dalam negara atau kota itu, yaitu warga. Lebih jauh dari itu, istilah polis menjangkau banyak hal, tidak sebatas negara atau kota, melainkan juga sifat-sifat yang terkandung di dalamnya. 

Sebut saja, dalam dunia kelembagaan, istilah polis digunakan untuk menerangkan otonomisasi (nomos: hukum). Orang Yunani pasti berbangga diri apabila ia diperintahkan dengan hukum, bekerja berdasarkan aturan dan berlaku sesuai undang-undang. Inilah otonomisasi Yunani dalam suatu negara atau kota mereka. Juga, istilah polis digunakan untuk menerangkan kemampuan mereka berdiri sendiri, tidak bergantung pada orang lain, tetapi memiliki daya untuk mengembangkan negara atau kotanya. Yang terakhir, polis disematkan juga untuk memperjelas lembaga-lembaga seperti "Sidang Umum," semacam tempat dan kesempatan untuk mendengarkan aspirasi semua warga negara atau kota. Ini yang kemudian melahirkan demokrasi, sebuah sistem pemerintahan yang di dalamnya rakyat berkuasa secara penuh. Di Indonesia, sitem pemerintahan yang dianut adalah demokrasi, mengambil alih apa yang diciptakan oleh bangsa Yunani.

Indonesia pencetus apa?


Ya... Indonesia 'hanya' mengadopsi apa yang menjadi milik bangsa lain. Ia tidak sekedar mengadopsi, melainkan menganggap politik sebagai sarana terbaik untuk menciptakan negara yang merdeka dan makmur. Maka politik adalah kendaraan untuk membebaskan dan terlebih mensejahterakan semua warga negara Indonesia, dengan demokrasi sebagai tulang punggungnya. 

Tujuan politik adalah baik, yaitu menciptakan keadaan aman dan nyaman, keadaan sejahtera, dengan adanya penguasa yang dipilih oleh rakyat (demokrasi). Penguasa, yaitu pemerintah, berkuasa untuk menentukan kebijakan yang menghasilkan kemakmuran bersama, bukan kemakmuran pribadi. Dengan demokrasi, warga negara atau kota memilih penguasa (pemimpin) yang mengabdi untuknya, bukan memerasnya. Warga negara atau kota yang baik, dalam urusan politik, sudah barang tentu memilih penguasa yang baik pula. Haknya sebagai warga negara jangan sampai dikebiri sendiri atau diberikan untuk dikebiri. Ingat (bangsa Yunani), politik itu untuk mencerdaskan warga negara atau kota, bukan membodohi. 

Akhir-akhir ini, politik negara ini terganggu oleh niat busuk beberapa orang. Niat busuk sudah tentu akan melahirkan kebusukan dan ini tidak menyenangkan, apalagi mensejahterakan. Kita tidak menghendaki keburukan atau kebusukan itu, melainkan kebaikan bersama, bonum comune

Kembali ke pepatah di atas, perang adalah politik dengan darah dan politik adalah perang tanpa darah. Kita tidak membahas perang sebagai hal yang menakutkan tetapi hal yang wajar dalam batas-batas manusiawi. Perang membawa serta perlawanan, contra, pertikaian, demikian juga politik. Akan tetapi politik yang kita manfaatkan adalah politik sebagaimana mestinya, tanpa menumpahkan darah tetapi melahirkan penguasa bijaksana. Perang adalah hal yang wajar tetapi memilih penguasa yang wajar adalah lebih penting. Politik adalah perang yang wajar tetapi mesti melahirkan penguasa yang sudah banyak belajar, cerdas dan pintar. 

Baik perang dan politik, keduanya akan menyisakan 'korban' tetapi pihak yang menang sudah pasti dapat berkuasa dan dijamin memajukan negara atau kota. Masalahnya di mana? Masalahnya ada pada warga negara atau kota sendiri. Demokrasi menjamin kedaulatan warga negara atau kota, itulah politik sesungguhnya. Andaikata warga negara atau kota dapat menentukan pilihannya berdasarkan hukum, aturan dan nuraninya, niscaya ia menciptakan negara atau kota yang otonom, berdikari dan demokratif. Dengan demikian warga negara atau kota sendiri menentukan kesejahteraannya melalui penguasa yang baik, jujur, adil dan bijaksana. Ini adalah politik demokratif yang melahirkan kesejahteraan bersama. 

Indonesia merdeka berkat perang gerilyanya yang mempesona dan menakutkan; perang yang menumpahkan darah penjajah, pun para pahlawan sendiri. Kini, kita tidak lagi berperang dalam arti yang sesungguhnya. Perang yang sesungguhnya telah kita lewati dan menjadi sejarah suram sekaligus sejarah keemasan, yaitu merdeka. Yang kita hadapi saat ini adalah perang kebebasan, kesejahteraan yang diwujudkan dalam politik bangsa. Politik yang baik mengundang warga negara atau kota untuk melihat dirinya sendiri sebagai penguasa yang menentukan arah dan tujuan bangsanya sendiri berdasarkan ketetapan nuraninya. Politik yang baik mementingkan kebaikan bersama, bukan individu. Politik yang baik adalah kita sendiri, warga negara atau kota, yang membangun negeri secara bersama-sama. Dulu kita berperang untuk merdeka, sekarang kita berpolitik untuk merdeka. Berpolitiklah sebagaimana mestinya! #MajulahIndonesiaku

Sumber bacaan: Prof. Dr. K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani

In te Domine speravi

Jumat, 25 November 2016

PerkataanKu tidak akan Berlalu

Luk. 21:29-33, "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu."


Yesus menjelaskan sendiri tentang kedatanganNya untuk kedua kali. "Dan aka ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, dan di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut. Orang akan mati ketakutan karena mereka kecemasan berhubung dengan segala apa yang menimpa bumi ini, sebab kuasa-kuasa langit akan goncang. Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya. Apabila semuanya itu mulai terjadi, bangkitlah dan angkatlah mukamu, sebab penyelamatanmu sudah dekat" (Luk. 21:25-28). 

Kedatangan pertama Yesus ialah saat kelahiranNya ke dunia melalui rahim Bunda Maria. Sabda yang menjadi manusia (Yoh. 1) mengambil bagian dalam sejarah dunia, waktu dan tempatnya. Allah berkenan kepada dunia, sehingga PuteraNya yang tunggal diutus dan melaksanakan karya penyelamatanNya sendiri. 



Dengan mengakui bersama Syahadat Nisea Konstantinopel: "Ia turun dari surga untuk kita manusia dan untuk keselamatan kita, menjadi daging oleh Roh Kudus dari Perawan Maria dan menjadi manusia." Sabda menjadi manusia, untuk mendamaikan kita dengan Allah dan dengan demikian menyelamatkan kita: Allah "telah mengasihi kita dan telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa dosa kita" (1 Yoh 4:10). Kita tahu bahwa "Bapa telah mengutus Anak-Nya menjadi Juru Selamat dunia" (1 Yoh 4:14), bahwa "Ia telah menyatakan Diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa" (1 Yoh 3:5) [KGK 456,457].

Yesus menegaskan bahwa andaikata kita melihat tanda-tanda alamiah yang "kacau-balau" itu (Luk. 21:31), maka ketahuilah bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Kerajaan Allah di sini tidak dekat dalam tahap pertamanya (Luk. 17:21), melainkan Kerajaan Allah dalam perkembangan dan perluasannya, yang dimulai sejak kemusnahan Yerusalem (bdk. Luk. 9:27 dst.), itulah zaman Gereja; yang diprakarsai oleh para Rasul, diteruskan oleh Gereja sampai kesudahannya, yaitu kedatangan Anak Manusia untuk kedua kalinya.

Itulah sebabnya Yesus berkata: "Langit dan bumi akan berlalu, tetapi perkataan-Ku tidak akan berlalu." Langit dan bumi yang diciptakanNya akan lenyap, tetapi Ia sendiri tidak akan lenyap. Ia mengambil bagian dalam penciptaanNya yang akan lenyap itu tetapi Ia sendiri tetap bertahan sampai selamanya. Di sini, Ia yang adalah Tuhan, Pencipta langit dan bumi, akan memperhatikan orang-orang benar yang mengambil bagian dalam sengsara dan kebangkitanNya, yang menghidupi sabdaNya, dan yang melaksanakan perintah-perintahNya. St. Agustinus berkata: "pembenaran seorang yang hidup tanpa Allah adalah karya yang jauh lebih besar daripada penciptaan langit dan bumi," karena "langit dan bumi akan lenyap, sementara keselamatan dan pembenaran orang terpilih akan tetap tinggal" (ev. Jo. 72,3).

Kita tidak dapat melupakan peran Roh Kudus pada masa-masa ini. Roh Kudus adalah guru batin. Pembenaran membangkitkan "manusia batin" (Rm. 7:22; Ef 3:16) dan membawa serta pengudusan seluruh hakikat manusia (KGK 1995). Sebab selama masa-masa Gereja ini, Roh Kuduslah yang membimbing, berperan sebagai Penolong yang lain, yaitu Roh Kebenaran (Yoh 14:16-17).

Posisi Gereja sebagai Ibu yang mengandungmu, melahirkanmu, menyusuimu, membesarkan dan mengajakmu kepada Kristus kiranya dibimbing oleh Roh Kudus agar bilamana Kristus datang untuk kedua kalinya, Ia menemukan kita dalam keadaan benar dan dinyatakan layak masuk ke dalam KerajaanNya. Tidak mungkin kita percaya kepada Kristus tanpa Gereja. Sebab sabda, ajaran dan kehendak Kristus dipelihara oleh Gereja dan diwartakan sepanjang segala masa. Maka Iman Katolik adalah gaya dan semangat yang tepat untuk percaya kepada Kristus yang mendirikan GerejaNya. Tidak salahlah bila kita mengatakan "Di luar Gereja tidak ada keselamatan." Justru ini tepat karena kita menerima Kristus yang menyelamatkan dari Gereja. "Di luar Gereja tidak ada keselamatan" melukiskan hubungan erat antara Kristus dan orang-orang beriman. Maka kalau perkataan Kristus tidak akan berlalu, itu karena Gereja senantiasa berpegang teguh pada sabda Kristus dan melaksanakannya. Pada saatnya, ketika Kristus kembali, Ia mendapati orang-orang benar yang akan diselamatkan berkat pewartaan terus-menerus. 


In te Domine speravi

Kamis, 24 November 2016

Pastor dan Selibat

"Pastor, mengapa tidak menikah saja waktu itu? Sayang yaa.."


"Ah, yang benar saja. Nona maksud apa ini? (Diam sejenak) Ingat waktu Yesus menjelaskan perihal kebangkitan kepada orang-orang Saduki? Nah, waktu itu Yesus maksudkan kurang lebih begini: urusan dunia, ya dunia saja. Sekiranya Yesus meminta untuk tidak memandang urusan Surga dengan kacamata dunia. Di Surga orang tidak menikah seperti di dunia ini. Menikah di dunia ini sebetulnya adalah cara Allah memanggilmu masuk Surga. Lalu tidak menikah atau menjadi Pastor? Itu juga cara Allah memanggil saya masuk Surga. Maka pandanglah dan jadikanlah cara hidup kita sebagai jalan menuju Surga."


(Pastor menambahkan) "Yesus menjelaskan bahwa kebangkitan itu ada, berarti Surga ada. Itu pasti! Menikah? Itu tidak pasti! Karena ada orang di dunia ini memilih untuk tidak menikah, dan ada yang memilih untuk menikah. Tapi bukan berarti salah satu dari keduanya tidak baik. Semuanya baik dan Allah sejak dahulu sudah mengetahui itu. Hal terpenting ialah Surga... dan bagaimana kita melihat cara hidup kita menjadi kesempatan untuk mencapai Surga itu. Kelak jadilah ibu rumah tangga Katolik yang baik untuk suami dan anak-anakmu ya. Perjuangkan Surga dengan posisimu sebagai seorang ibu rumah tangga."





In te Domine speravi

Dari Keruntuhan Yerusalem sampai Akhir Zaman

Kamis, 24 November 2016

Luk. 21:20-28, Tentang runtuhnya Yerusalem dan Kedatangan Anak Manusia

Katekismus Gereja Katolik nomor 2 menjelaskan: Supaya panggilan ini didengar di seluruh dunia, Kristus mengutus para Rasul yang telah dipilih-Nya dan memberi mereka tugas untuk mewartakan Injil: "Karena itu, pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman" (Mat 28:19-20). Berdasarkan perutusan ini mereka "pergi memberitakan Injil ke segala penjuru dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya" (Mrk 16:20).

Yesus datang ke dunia untuk memanggil semua orang menjadi anak-anak Allah dalam Roh Kudus, dan mewarisi kehidupan yang bahagia (KGK 1). Meskipun Ia telah naik ke Surga, para Rasul tetap melanjutkan karyaNya yang mengagumkan, memanggil semua orang agar menjadi anak-anak Allah. Yesus sendiri tinggal di antara para Rasul dan mengutus mereka ke berbagai penjuru dunia. Tugas perutusan ini dilanjutkan terus sampai pada akhir zaman dengan Yesus sendiri menyertainya. Demikianlah ia sendiri terus berkarya dalam diri para Rasul. Tanda-tandanya ialah ajaran dan teladan hidup untuk menjadi anak-anak Allah tetap sama seperti yang ditunjukkan Yesus dahulu kala, dalam sejarah dunia, yang diajarkan oleh para Rasul dan para pengganti mereka hingga hari ini.

Ingat, rencana dan kehendak Bapa yang dilaksanakan secara sempurna oleh Yesus tetap berlaku sampai akhir zaman. Bahkan Gereja sendiri adalah tanda permulaan dari semua yang ditunjukkan Yesus itu. Katekismus Gereja Katolik menjelaskan: Sejak kenaikan ke surga, rencana Allah mulai dipenuhi. Kita sudah hidup dalam "waktu terakhir" (1 Yoh 2:18). "Jadi sudah tibalah bagi kita akhir zaman (lih. 1 Kor 10:11). Pembaharuan dunia telah ditetapkan, tak dapat dibatalkan, dan secara nyata mulai terlaksana di dunia ini. Sebab sejak di dunia ini Gereja ditandai kesucian yang sesungguhnya meskipun tidak sempurna" (LG 48). Sudah sekarang Kerajaan Kristus menunjukkan kehadirannya melalui tanda-tanda ajaib, yang mengiring pewartaannya oleh Gereja (KGK 670). 

Keruntuhan Yerusalem dan Akhir Zaman

Yesus pernah berbicara mengenai runtuhnya Yerusalem, kota kejayaan Israel, dan memang pada waktunya Yerusalem pun hancur, runtuh, tepat seperti kata-kata Yesus. Akan tetapi, kajian Lukas ini bukan berkaitan dengan kehancuran dunia atau kesudahannya seperti yang dimaksudkan oleh Matius (bdk. Mat. 24:1 dst.). Yerusalem diruntuhkan pada tahun 70 oleh tentara Romawi, dan ini adalah masa yang ditetapkan oleh Allah sendiri untuk menghukum orang-orang Israel yang bersalah. Sesudah itu, Israel akan dibebaskan kembali. Ini adalah pokok pemikiran Yesus dalam pengajaranNya. 

Gereja, Israel yang Baru

Selanjutnya Yesus berbicara mengenai kedatangan Anak Manusia, yang sejatinya adalah diriNya sendiri yang datang pada akhir zaman (Luk. 21:25-28). Gambaran Yesus agak menakutkan sebab Ia menyertakan tanda-tanda alam yang ada di luar dugaan semua orang. "Dan akan ada tanda-tanda pada matahari dan bulan dan bintang-bintang, di bumi bangsa-bangsa akan takut dan bingung menghadapi deru dan gelora laut" (Luk. 21:25). Gambaran singkat Yesus ini berhubungan dengan akhir zaman, di mana Yesus sendiri datang untuk menghakimi setiap orang. Kalau Ia datang pada akhir zaman untuk mengadili orang hidup dan orang mati, Kristus yang dimuliakan akan menyingkapkan isi hati yang terdalam dan akan membalas setiap manusia sesuai dengan pekerjaannya, tergantung pada, apakah Ia menerima rahmat Tuhan atau menolaknya (KGK 682). 

Nah, karya perutusan Yesus menjadi penting di sini. Ada masa di mana Israel diruntuhkan, dihukum dan dibinasakan, tetapi ada juga masa di mana Israel bangkit kembali, dibebaskan dan dipelihara oleh Allah. Sekiranya sabda perutusan Yesus bagi para Rasul di atas menjadi jelas bahwa Ia senantiasa bekerja, berkaya untuk menarik sedemikian banyak orang kepadaNya, menjadi anak-anak Allah. Gereja mewarisi pewartaan Yesus melalui para Rasul, melanjutkan karya Yesus, menjadi sarana keselamatan bagi banyak orang. Gereja itu umat Allah yang dipanggil oleh Yesus dan menjadi anak-anak Allah. Boleh dikata, Gereja menjadi Israel yang baru, yang dengan perjanjian baru, dinyatakan oleh Allah sebagai anak-anakNya sendiri berkat kematian PuteraNya, Yesus Kristus, di kayu salib. 

Maka dengan runtuhnya Yerusalem, kota kenangan itu, Yesus dengan salibNya, menjadi Perjanjian Baru untuk menyelamatkan umatNya. Zaman perbudakan telah dilewati, kini pembaharuan dimulai, pembebasan dialami sambil berziarah menuju Kerajaan Surga. Tanda-tandanya ialah percaya kepada Yesus, Penyelamat dunia. Pada saatnya, akhir zaman itu datang, Anak Manusia bertindak sebagai hakim, memerintah dan mengadili tiap-tiap orang, menyingkapkan isi hati terdalam dan membalas setiap orang sesuati dengan perbuatannya. Konsekuensinya, semua orang wajib menerimaNya agar layak disebut anak-anak Allah. Jadi sebetulnya Kerajaan Allah dimulai dari dunia ini hingga tiba masa pengadilan yang dilakukan Kristus, yaitu pada akhir zaman. Sebagai Israel yang baru, Gereja aktif mewartakan Yesus sampai akhir zaman itu sambil tetap berjuang untuk menjadi anak-anak Allah yang sejati. 

(Pict: http://lubukhati.org/?author=3&paged=5, https://luxveritatis7.wordpress.com/2012/01/16/benarkah-yesus-tidak-mendirikan-agama/, https://id.aliexpress.com/w/wholesale-jesus-craft.html)

In te Domine speravi

Senin, 21 November 2016

Engga Condios

Nama lengkap saya Ignasius Fernatyanan, biasanya disapa Engga. Fakta bahwa adanya tambahan nama Condios menunjukkan keberadaan saya sebagai anggota Gereja Katolik. Demikian yang dapat dijelaskan: Con dalam istilah Bahasa Latin berarti bersama, sementara istilah Dios menunjuk pada istilah Deo yang berarti Allah, Tuhan. Maka secara lurus, kata Condios diterjemahkan sebagai bersama Allah. Bukan tanpa alasan, sebab menurut hemat saya identitas saya sebagai anggota Gereja Katolik mengungkapkan fakta bahwa saya bersama dengan Allah, dan ini dimulai sejak saya dibaptis di dalam Gereja Katolik. 

Saya ingin menyebut diri sebagai "Pejuang Kecil," seorang yang tidak berguna dan karena itu selalu dalam perjuangan untuk terus berkembang dalam kebaikan dan kebenaran. Saya bukanlah seorang yang sudah baik dan benar melainkan pejuang untuk dua hal itu. Kebaikan dan kebenaran, itulah yang coba dijadikan dasar dan pedoman hidup ini. 

Guru utama yang mengajarkan saya untuk mencapai kebaikan dan kebenaran itu adalah YESUS KRISTUS, yang lahir dari rahim Bunda Maria karena rencana dan kehendak Bapa. DariNya saya hidup sehingga kepercayaan saya secara pribadi terarah kepadaNya. Gereja Katolik adalah "kediaman" yang saya imani sebagai rumah, tempat dimana saya bernaung untuk mengenal pendirinya, yaitu KRISTUS. Kediaman ini didirikan di atas wadas Petrus, sang batu karang, dalam lindungan Roh Kudus akan bertahan sampai selamanya. 


Semua ini tidak dapat dipisahkan, sebab memang KRISTUS tidak dapat dipisahkan dari TubuhNya, yaitu Gereja Katolik. Dengan Dialah, saya sebagai anggota Gereja, senantiasa belajar; belajar untuk berbuat baik dan benar sehingga pada saatnya nanti dapat bertemu denganNya di dalam Surga. Saya percaya bahwa KRISTUSlah satu-satunya tumpuan hidup, Ia menjadi tolok ukur untuk hidup yang sesungguhnya. Sabda dan pengorbanan hidupNya menjadi landasan untuk berpijak. Maka tidak ada yang dapat memisahkan saya dari padaNya. 


Perjuangan untuk menjadi seperti KRISTUS adalah kesempatan emas untuk mencapai keselamatan yang kelak saya terima; demikian juga semua warga Gereja Katolik. Perjuangan ini coba saya wujudkan dalam suatu panggilan khusus, yaitu menjadi imamNya kelak. [Semoga ia membimbing dan merahmati saya selalu]. Untuk itulah saya mengenyam pendidikan di Seminari sejak Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas (Langgur, Maluku Tenggara), Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi (Manado, Sulawesi Utara dan Ambon, Maluku).


Itu adalah jenjang untuk mencapai imamat suci di dalam Gereja Katolik. Maka saya selalu berada dalam proses belajar; belajar bersama KRISTUS dalam Gereja Katolik, bersama teman-teman dan siapa saja yang selalu mendoakan saya. In te Domine speravi, di dalam Dikau, ya Tuhan, aku berharap! Ad maiorem Dei gloriam.

Blogger ini didirikan pada penutupan Tahun Liturgi (C), 20 November 2016, pada HARI RAYA TUHAN KITA YESUS KRISTUS RAJA SEMESTA ALAM, seraya menghimpunkan kembali semua tulisan saya yang pernah dipublikasikan melalui beberapa media online. Semoga dapat membantu dalam menemukan arah hidup yang jelas di dalam YESUS KRISTUS. 


Facebook saya yang terdaftar: Engga Condios


Terima kasih, Tuhan memberkati!


(Pejuang Kecil)