Kamis, 06 April 2017

“Ketakutan Suci” – “YPH” itu Cukup?


Kitab Suci menampilkan banyak tokoh suci atau orang-orang suci. Kesucian mereka teruji di hadapan Allah yang memanggil dan mengutus mereka. Kesucian ini timbul dari dalam hati mereka sendiri demi Allah yang mereka sembah dan layani. Ketahuilah, mereka-mereka yang suci ini takut Akan Allah! Ketakutan suci akan Allah berkaitan erat dengan “waktu rahmat” dan “hari penyelamatan” Allah (2Kor. 6.2), bahwa pada saat Tuhan datang Ia akan dimuliakan di antara orang kudusNya (KGK. 1041). Bisa dimengerti mengapa orang-orang kuduslah yang diperbolehkan memuliakan Allah.

Contoh tokoh-tokoh suci itu adalah Abraham, Yusuf, Musa, Samuel, Salomo, Obaja, Ayub, Zakharia, dst. Coba perhatikan dan teliti kisah hidup mereka masing-masing! Kepada bangsa Israel, umat pilihan, Allah berulang-ulang kali menyerukan dan mengingatkan mereka untuk takut akan Dia, sebab Dia adalah kudus dan Dialah yang memanggil umat pilihan itu untuk dibebaskan dari perbudakan dosa. Allah menyerukan itu melalui utusan-utusanNya sendiri. Dan kalau Ia terus-menerus mengulangi hal yang sama, hal itu adalah penting dan sangat mendesak! Pemazmur juga senantiasa menyerukan ketakutan suci ini, yaitu takut akan Allah.

PL: Apa artinya takut akan Allah?

Dalam Perjanjian Lama, takut akan Allah berarti rasa keagamaan yang mendalam dan rasa kehormatan sebagai anak, yang mencakup sikap yang benar terhadap Allah. Ketakutan ini bukan seperti perasaan takut yang ada dalam diri seorang budak terhadap tuannya, bukan pula seperti seseorang yang takut akan kegelapan dunia, atau seorang bawahan takut kepada atasannya, atau juga seorang yang takut mati. Ini murni timbul dari dalam diri seseorang karena pertama-tama Allah adalah kudus!

Allah berfirman kepada Musa: “Bebicaralah kepada segenap jemaah Israel dan katakan kepada mereka: Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (Im. 19:2). Allah menghendaki supaya bangsa itu kudus, maka Ia memanggil dengan perantaraan Musa dan para nabiNya (kemudian) supaya mereka mengejar kekudusan. Ingat, manusia diciptakan secitra dengan Allah, dan karena itu ia mengambil bagian dalam kekudusan Allah. Maka, untuk menjadi kudus, orang wajib takut akan Allah yang kudus itu. Bukan takut karena bersalah (berdosa) lalu dihukum, tapi lebih-lebih karena merupakan ekspresi religiusitas yang tinggi atau luapan batin yang tunduk dan taat pada Allah. Ternyata takut ini demi Allah yang kudus dan demi kekudusan diri sendiri.

PB: Yesus bilang apa tentang hati?

Sabda bahagia keenam yang diungkapkan Yesus saat berkhotbah di bukit, bunyinya begini: “Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah” (Mat. 5:8). Kesucian hati melahirkan rasa takut akan Allah, sehingga hati senantiasa wajib dibersihkan, dijauhkan dari kemunafikan – kebencian – iri/dengki, lalu diisi dengan Allah dan diarahkan sepenuhnya kepadaNya, supaya terpenuhilah sabda bahagia itu – “melihat Allah” (yaitu masuk dalam kegembiraan dan perhentian Allah – KGK 1720). Inilah hati yang murni, dimana mereka yang memilikinya sudah menyesuaikan pikiran dan kehendaknya dengan tuntutan kekudusan Allah (cinta kasih kristiani, kemurnian atau sikap tak bercela di bidang seks, dan cinta kepada kebenaran atau kepatuhan kepada agama) – (KGK 2518).

Gereja takut akan Allah?

Kalau Allah menghendaki kekudusan menjadi milik semua orang karena Dia adalah kudus, maka selama berada di dunia ini Gereja senantiasa mengejar kekudusan itu. Ia telah mendapatkan itu dari Kristus yang mendirikannya dan secara terus menerus belajar dari Kepalanya, sebab tangan yang mendirikannya adalah kudus dan darah yang mengalir dari lambungNya adalah kudus. Dan karena itu, Gereja senantiasa membutuhkan pengudusan (LG 8) supaya pada akhirnya Gereja surgawi, Yerusalem yang baru, akan bersinar dengan kekudusan yang cemerlang (Why. 21:2, 10-11, 22:19). Yesuslah yang menjadi perantara semua orang kepada Bapa di sorga itu. “Akulah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).

Gereja lahir dari Allah dan senantiasa berpaut padaNya sambil bercermin pada para tokoh suci dalam Kitab Suci yang telah menunjukkan ketakutan mereka kepada Allah secara sungguh-sungguh dan hidup dengan amat saleh. Kekudusan ini hanya mungkin jika Roh Kudus bekerja di dalam diri Gereja. Bahkan St. Paulus menyebut bahwa seluruh Gereja dan setiap orang Kristiani adalah kenisah Roh Kudus (1Kor. 3:16-17; 6:19). Dengan demikian, sifat hakiki Gereja adalah kudus karena Allah sendiri yang bekerja dan menguduskannya dengan pengantaraan Kristus yang tersalib, wafat dan bangkit.



1) MengasihiNya

Hukum kasih, itu yang utama! Sungguh demikian kudusnya Allah, sehingga Gereja mau mengasihiNya dengan segenap hati dan dengan segenap jiwa dan dengan segenap akal budi dan dengan segenap kekuatan (Mat. 22:37, Mrk. 12:30, Luk. 10:27) supaya ia tidak jauh dari Kerajaan Allah. Sekiranya Bunda Maria, para Rasul (dan St. Paulus), para martir (mulai dari St. Stefanus) dan orang-orang kudusNya telah membuktikan kasih yang demikian hebat kepada Allah dan menunjukkan kekudusan mereka masing-masing di hadapanNya. Itu karena “ketakutan suci” mereka kepada Kristus, Allah yang hidup. Mereka tidak berani sedikitpun melawan Dia dengan sengaja. Sebaliknya, dengan hati terbuka, mereka membiarkan diri dikuasai oleh Allah, “Sesungguhnya, aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk. 1:38). Ini adalah jawaban kesiapan dan kesanggupan Maria mencintai dan menerima Kristus di dalam dirinya. Rasul Petrus yang mati disalibkan terbalik dan Rasul Paulus yang mati digorok lehernya karena Yesus, ini juga tanda persembahan diri mereka secara utuh dalam kasih akan Dia. Hati mereka telah ditawan oleh Yesus sehingga menumpahkan darah sekalipun, mereka rela, asalkan itu demi Dia yang sangat mereka kasihi. Demikian jugalah semua orang kudus yang diperingati di dalam Gereja Kristus. Hidup dan kematian mereka semua adalah tanda kasih, ungkapan cinta mendalam, yang timbul dari dalam hati sebagai persembahan bakti bagi Kristus. Maka sebagai saluran keselamatan Kristus, Gereja wajib pertama-tama mengasihiNya dengan hati yang takut akan Allah dan sikap hormat nan khusuk sehingga Kristus menguduskan dunia.



2) “YPH” & Seluruh Anggota Tubuh!

Yesus menegaskan betapa penting dan mendesak mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan! Maka jikalau Ia, Allah yang hidup, yang kudus, hadir secara nyata (Realis Praesentia) di tengah-tengah dunia ini, di dalam Ekaristi Mahakudus dan semua Sakramen Gereja, Siapakah aku ini sehingga tidak takut kepadaNya? Siapakah aku ini sehingga tidak gentar kepadaNya? Siapakah aku ini sehingga tidak sujud hormat kepadaNya? Siapakah aku ini sehingga “bebas sesuka hati berpenampilan semrawutan” di hadapanNya? Siapakah aku ini sehingga tidak menyiapkan diri untuk bertemu denganNya? Ya Tuhan, hanya debulah aku di alas kakiMu! Jangan bilang “Yang Penting Hati” (YPH), sebab jika demikian itu adalah kemunafikan besar kepada Allah yang kudus! Sebab tangan Allahlah yang membentuk “seluruh tubuh” kita maka “seluruh tubuh” kita wajib dikuduskan bagi Allah, apalagi saat berhadapan denganNya di dalam rumahNya yang suci. Jika “YPH” seharusnya yang sudah pasti ada di sana ialah ketakutan suci akan Allah, sehingga dengan bebas mempengaruhi seluruh anggota tubuh untuk memberikan penghormatan dan sembah sujud yang layak dan pantas kepadaNya. Siapakah aku ini sehingga tidak mengindahkan Engkau, Tuhan? Siapakah aku ini sehingga terlalu mementingkan hati dan lupa menghormati Engkau dengan diriku seutuhnya? Aduh Tuhan, aku menjadi malu dan gentar sebab diriku seutuhnya akan dicampakkan ke dalam api yang tak terpadamkan karena tidak berguna. Ampunilah aku, ya Tuhan, sebab aku tidak takut akan Engkau, tetapi pada kesenangan diriku sendiri.


Renungkanlah ini dengan baik:
“Ketakutan Suci” lahir dari hati yang suci untuk mencintai dan menghormati Allah yang kudus. Ketakutan ini tidak tinggal tetap di dalam diri, hati, melainkan menggerakkan anggota-anggota tubuh untuk sujud menyembah Allah yang hadir di dalam hidup kita, terlebih di dalam perayaan Liturgi Sakramen-Sakramen Gereja. Ketakutan inilah yang mendorong kita secara ketat untuk tunduk dan taat pada semua perintah Allah karena kekudusanNya dan demi kekudusan kita sendiri di dalam Dia. Itulah sebabnya, Kristus mengutus kepada kita Roh Kudus supaya Ia memberi juga kepada kita karunia takut akan Allah, yaitu ketakutan suci ini. Roh takut akan Allah akan mendorong kita untuk mengasihi Allah secara utuh, mengakui Dia, menghormati Dia secara sempurna selama Ia menyatakan diriNya. Kalau mengandalkan YPH, sudah selayaknya dan sepantasnya hati menjadi sumber kebaikan dan kebenaran karena di sana Allah tinggal. Apakah kita mau membohongi diri kita sendiri? Atau sedang berusaha membohongi Allah yang kudus atau orang lain yang berhadapan dengan kita? Atau jangan-jangan kita tidak menyadari sama sekali istilah “YPH” saat kita mengucapkannya? Apapun itu, bertobatlah! Bertobatlah supaya kembali menjadi kudus karena Allah adalah kudus. Kekudusan sesungguhnya menyangkut semua hal, hati, jiwa, budi, kekuatan, bertutur, bertingkah laku, berpenampilan, dst.



Pax Dimini sit semper vobiscum!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar