Senin, 21 November 2016

Balada Bahtera Kristus (Luk. 5:1-11)

Perahu Petrus adalah Gereja yang mengarungi samudera kehidupan.
Pada samudera itu, ia diombang-ambingkan oleh gelora lautan, diterpa angin yang kencang.

Namun, ia tetap bertahan karena Kristus ada di dalamnya. Kristus menjadi pemegang kuasa dan mendasari Gereja. Kristuslah yang menyertai Gereja sampai kekal. Gereja diperintahkan oleh Kristus untuk menangkap sekian banyak orang dan dimulai dari Petrus.


Petrus bukan lagi penjala ikan, melainkan penjala manusia. Dari sana, mereka yang ditangkap akan memandang wajah Kristus sang pemilik bahtera kehidupan, sama seperti Petrus di dalam bahtera itu. Dengarkanlah sabdaNya dan lakukanlah, maka kamu akan memandang wajah Allah dalam kemuliaanNya.


Bertolaklah ke tempat yang dalam dan kamu akan memperoleh berkat yang melimpah. Di bawa pimpinan Kristus, Gereja bertolak, menebarkan jala dan menangkap banyak orang yang dikesampingkan, ditindas, dan diperlakukan tidak semena-mena serta mereka yang miskin dan bersengsara.


Kiranya Kristus, sang pemilik bahtera kehidupan, memberkati kita dan mendampingi kita di tengah samudera kehidupan ini. Amin.


23 September 2011


In te Domine speravi

Jangan, dan Jangan Sekali-kali Jangan

Dunia seakan membenci manusia…
Kutak tahu apa dan sebab kesalahnnya
Apa gerangan perbuatanku sehingga ia harus membenci?
Bukan melarikan diri dari kenyataan yang telah diperbuat tapi hanya ingin menanyakan apa dan bagaimana kesalahan itu?

Maafkanlah manusia jika telah menyakitimu
Maafkanlah manusia jika telah membuatmu sedih bahkan sampai marah
Tapi kami ingin kau tahu bahwa telah lama hati kami ini menjerit terhadap fakta dan kenyataan hidup ini.

Haruskah kita menghidupi apa yang tidak harus kita hidupi?
Haruskah kita memandang apa yang seharusnya tidak kita pandangi?
Tapi semuanya telah terjadi dan menjadi bagian dari hidup banyak orang
Semuanya bak nasi yang telah menjadi bubur, bubur pun masih kalah kualitasnya di banding fakta penderitaan di mana-mana.

Semoga kita manusia bisa menanggapi apa yang dirasakan dunia
Semoga kita manusia menyadari apa yang dikehandaki dalam hidup
Memberi yang terbaik dan melakukan yang terindah bagi dunia
Dunia memang telah indah tapi keindahan itu harus dimiliki pula oleh kita
Itulah komplementernya dalam bahasa ekonomi, bahwa kita harus saling melengkapi
Sebaliknya, jangan dan jangan sekali-kali jangan.

23 September 2011

In te Domine speravi

Tuhan, dan Hanya Tuhan

Cahaya kehidupan terlihat di seberang sana
Mentari mulai menyinari dunia seakan semuanya tak dapat bersembunyi lagi
Roda kehidupan terus berputar namun kedegilan hati manusia tak pernah berhenti
Keganasan manusia terhadap sesamanya tetap berjalan terus
Kemunafikan dan kecurangan masih dipraktekkan di mana-mana bak sebuah kehidupan baru
Semua itu menimbulkan kemelaratan dan kemiskinan bagi sebagian orang
Semua itu meninggalkan duka yang berkepanjangan
Semua itu menghasilkan kepedihan dan kesulitan
Mengapa hari-hari hidup hanya diisi dengan semua itu?
Akankah semua itu dapat dihentikan sejenak dan Kasih Tuhan membaharuinya?
Manusia kehilangan esensinya
Manusia kehilangan martabatnya
Etika dan sopan santun tak lagi diusahakan apalagi dimengerti
Itu hanyalah teori belaka dan tak menyisakan kebaikan apa pun
Moral menjadi hancur dan kehidupan terus berjalan hanya dengan sisi egositiknya
Lantas egaliternya tak ada lagi
Semua hanya sufistik belaka, nomen saja
Tak ada guna melihat roda kehiudapan yang demikian
Tak manfaat apa-apa yang dapat ditarik dari sana
Apa kita harus belajar darinya?
Tak usahlah karena dari dulunya sudah diusung hal yang sama
Tapi pada akhirnya tak ada hasil apa-apa
Malah penderitaan terus meningkat dan bergelora
Adakah orang yang “pusing” dengan hidup yang demikian?
Adakah manusia yang bisa membangun seri kehidupan yang membahagiakan?
Katanya bisa, tapi apa jaminan dan hasilnya?
Omong kosong, omong kosong pun masih lebih baik ketimbang munafik terhadap hidup
Seandainya semua manusia nilai yang satu dan abstrak tapi baik, pastilah hidup menjadi indah
Kepastiannya sudah ada, tinggal kesepakatan yang belum diusahakan
Kesepakatan membutuhkan kepastian dan kepastian membutuhkan kesepakatan
Kesepakatan untuk mengejar nilai yang baik dan berguna bagi kepentingan bersama
Kesepakatan untuk mengejar kemerdekaan hidup bagi semua
Itulah kepastian, kepastian akan kebaikan dan kemerdekaan
Tapi apa daya, manusia tak mampu menunjukkan itu
Manusia butuh bantuan dari dunia lain
Manusia butuh pertolongan dari pihak lain
Apa dan siapa dia?
Yah, jawabannya adalah Tuhan, Tuhan dan Tuhan, hanya Tuhan dan tak ada yang lain
Hanya manusia yang sampai pada kesadaran itulah yang dapat mengubah dunia
Hanya manusia yang mengagumi keberadaan Tuhanlah yang dapat menumpas luka hidup
Dan hanya manusia yang mampu mengerti keberadaan Tuhanlah yang dapat mengikis kerikil hidup
Harunya kita tahu bahwa hanya Tuhan yang dapat menyimpulkan seluruh hidup manusia
Itulah sebabnya ajaran-ajaran agama hanya berujung pada tujuan yang satu itu
Dalam agama manusia memperoleh harapannya
Dunia pun memperoleh kedamaian dan kebahagiaan
Dunia pun tak dapat dipisahkan dengan kebenaran
Tuhan, dan hanya Tuhan yang harus eksis dalam hidup manusia
Hanya Tuhan yang mengerti kehidupan dan persoalan hdiup manusia
Berlarilah pada Tuhan dan hdiupmu berada dalam roda kehidupan-Nya.


23 September 2011


In te Domine speravi

Yang Benar, Katakanlah!

Memang kita tidak boleh menghakimi orang lain atau siapa saja, karena hanya ALLAH hakimnya. Namun, untuk kebenaran atau sesuatu yang sudah ditunjukkan oleh Kristus kepada kita untuk dikatakan, katakanlah.

In te Domine speravi

Pembaptisan dalam Kristus

Lewat pembaptisan suci kita diangkat oleh ALLAH menjadi anakNya. Di situlah kita mati bersama Kristus dan bangkit bersamaNya. Dosa asal dihapuskan dan kita menjadi baru di dalamNya.

In te Domine speravi

Pengorbanan Kristus

Pengorbanan Kristus adalah untuk semua orang. Ia memberikan diriNya secara utuh kepada semua ciptaanNya. Maka kita sebagai anggota-anggota TubuhNya haruslah meniru tindakan pengorbanan Kristus itu bagi siapa saja, khususnya mereka yang sedang menderita.

In te Domine speravi

Kemiskinan Hati Maria dan Janda Yerusalem

"[Sebab] mereka semua memberi persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan ia memberi seluruh nafkahnya" (Luk. 21:4).

Untuk Allah, tidak perlu ada pertimbangan sana-sini dalam memberi. Begitu kira-kira yang kita mengerti dari sabda Yesus di atas. Sebetulnya inilah sikap utama orang beriman, yakni bahwa orang mau merelakan segalanya demi kemuliaan Allah. 


Sikap ini bersumber dari kedalaman hati manusia, digerakkan oleh Roh Kudus, dan dilaksanakan secara sadar sehingga berdaya guna bagi kebaikan Allah. Suatu persembahan yang utuh yang ditujukan kepada Allah melalui banyak hal dan kesempatan.


Janda miskin di Yerusalem adalah contoh dari orang kaya di hadapan Allah. Persembahannya berkenan kepadaNya dan mendatangkan rahmat baginya. Kiranya teladan unggul dari persembahan diri manusia sudah dipancarkan oleh Maria, Bunda Allah, yang kita peringati hari ini. 


21 November adalah kesempatan bagi orang Kristen untuk mengingat pemberian diri Maria kepada Allah di Bait Suci. Maria memberi kepada Allah dirinya yang suci-murni sehingga pada saatnya dipilih Allah untuk karya keselamatan dunia. 


Maria dan janda miskin itu adalah gambaran konkrit dari keaslian Kristen. Bahwa mereka memberi untuk Allah karena kemiskinan hati mereka. Tepat seperti yang ditunjukkan Yesus selama hidupNya, memberi diriNya sendiri sebagai tebusan bagi umat manusia yang berdosa. 


Orang Kristen perlu memiliki hati yang miskin, yang menggerakkan hatinya untuk memberi, mengorbankan diri dan mengikuti Kristus. Pengorbanan diri dan miliki bagi Allah adalah keselamatan untuk kita. Pengorbanan diri Kristus di kayu salib adalah sumber dan puncak bagi semua kebiasaan orang Kristen.


[Pict: https: //www.pinterest.com/cascadianmystic/mary-queen-of-angels/]


In te Domine speravi