Minggu, 26 Maret 2017

Punya Mata, tapi Tidak Melihat. Melihat, tapi Tidak Percaya

Sebenarnya ada apa dengan orang seperti ini? Itulah orang yang berusaha membungkam kebenaran. Persis itu adalah orang-orang Farisi yang hari ini ditegur langsung oleh Yesus.


“Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta” (Yoh. 9:39).

Yohanes memberikan kesaksian bahwa kata-kata Yesus ini didengar oleh beberapa orang Farisi yang berada di situ dan mereka berkata kepadaNya:

“Apakah itu berarti bahwa kami juga buta?” (Yoh. 9:40).

Maka Yesus menjawab mereka demikian:

“Sekiranya kamu buta, kamu tidak berdosa, tetapi karena kamu berkata: Kami melihat, maka tetaplah dosamu” (Yoh. 9:41).


Orang-orang Farisi sangat cocok dibilang begini: “Punya mata, tapi tidak melihat. Melihat, tapi tidak percaya.” Di beberapa kesempatan (termasuk peristiwa hari ini), orang-orang Farisi gemar menentang Yesus. Misalnya dalam hal mengampuni dosa, peraturan Sabat, dan bergaul dengan pendosa. Persis seperti yang dikisahkan rasul Yohanes hari ini: Orang yang buta sejak lahirnya (Yoh. 9:1-41).

Bagi Yesus, mereka terlalu mementingkan legalisme lahiriah, terlalu memusatkan perhatian pada aturan-aturan dan lupa akan kebenaran yang disampaikan dan dikerjakan oleh Allah dalam diri Anak Manusia. Misalnya, Yesus “mengaduk tanah” (Yoh. 9:14) adalah suatu pekerjaan yang tidak boleh dilakukan pada hari Sabat. Namun Yesus melakukan itu untuk menyembuhkan orang buta itu. Maka jadilah mata orang itu melek.

Yesus bertemu dengan dia dan berkata: “Percayakah enkau kepada Anak Manusia?” Jawabnya: “Siapakah Dia, Tuhan? Supaya aku percaya kepadaNya.” Kata Yesus kepadanya: “Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!” Katanya: “Aku percaya, Tuhan.” Lalu ia sujud menyembahNya” (Yoh. 9:35-38).

Kepada orang buta yang matanya dimelekkan, Yesus memberikan keselamatan dan pengampunan dosa. Sementara kepada orang-orang Farisi, Yesus menyatakan bahwa dosa mereka tetap ada. Sebab, mereka mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat. Mereka melihat, tetapi tidak menaruh kepercayaan pada Yesus, Anak Manusia.

Benarlah kata-kata sang Pemazmur ini: “Mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat” (Mzm. 135:16b). Itulah orang-orang Farisi! Karena mereka lebih berpuas pada diri mereka sendiri dan percaya pada tangan mereka sendiri (bdk. Yoh. 9:24, 29, 34). Sebaliknya, mereka tidak dapat rendah hati seperti orang buta yang matanya dimelekkan Yesus itu. Orang buta yang disembuhkan itu adalah lambang orang-orang yang rendah hati dan menerima Yesus. Mereka ini “Tidak memiliki mata, tetapi melihat. Mereka melihat lalu percaya” (bdk. Ul. 29:3; Yes. 6:9 dst.; Yer. 5:21; Yeh. 12:2).

Orang Katolik yang terkasih, sekarang kita tidak lagi melihat Yesus. Namun, Roh Kudus yang Ia dan Bapa curahkan kepada kita memapukan kita untuk melihat Dia dalam kemuliaanNya. Beginilah pengajaran Gereja:


Tidak ada orang yang tahu, apa yang terdapat di dalam diri Allah selain Roh Allah (1Kor. 2:11). Roh yang mewahyukan Allah itu, membuat kita mengenal Kristus, Sabda-Nya yang hidup; tetapi ia tidak berbicara tentang diri-Nya sendiri. Ia, yang “bersabda melalui para nabi,” membuat kita  mendengarkan Sabda Bapa. Tetapi kita tidak mendengarkan Dia sendiri. Kita hanya mendengarkan Dia secara tidak langsung, bial ia mewahyukan Sabda kepada kita dan mempersiapkan kita, menerima-Nya dalam iman. Roh kebenaran, yang “mengungkapkan” Kristus bagi kita, tidak berbicara “dari diri-Nya sendiri” (Yoh. 16:13. Sikap rendah hati yang ilahi ini menjelaskan, mengapa “dunia tidak dapat menerima-Nya, karena ia tidak melihat-Nya dan tidak mengenal-Nya,” sedangkan mereka yang percaya kepada Kristus mengenal-Nya, karena Ia menyertai mereka (Yoh. 14:17) [KGK 687).

Kiranya dengan Roh Kudus, kita tetap melihat Kristus yang menyelamatkan, supaya kita percaya kepada-Nya sepanjang hidup ini.

Pax Domini sit semper vobiscum.
(Pictures: pinterest.com, LDS.org, catholic-saint.net)

Sabtu, 25 Maret 2017

25 Maret, HARI RAYA KABAR SUKACITA

(pinterest.com)

Hari Raya Kabar Sukacita Santa Perawan Maria (25 Maret) disebut juga dlm kalender lama:

FESTUM INCARNATIONIS, INITIUM REDEMPTIONIS CONCEPTIO CHRISTI, ANNUNTIATIO CHRISTI, ANNUNTIATIO DOMINICA.

Kita merayakan kabar gembira yang disampaikan oleh malaikat Gabriel kepada Maria. Bahwa Maria akan mengandung dan melahirkan Kristus (Luk. 1:26-38). Hari Raya ini berasal dari Bizantium dan tampaknya sudah dirayakan di Roma sejak abad ketujuh. Hari Raya ini jatuh pada tgl 25 Maret yang ditentutkan berdasarkan perhitungan 9 bulan sebelum 25 Desember yang secara tradisional dirayakan sebagai hari kelahiran Yesus.

Dalam Gereja Latin, perayaan ini pertama kali disebutkan dalam "Sacramentarium" Paus Gelasius, yang kita miliki dalam bentuk sebuah naskah dari abad ketujuh. Perayaan ini juga ditemukan dalam "Sacramentarium" St. Gregorius, salah satu naskah tertanggal dari abad kedelapan. Karena kedua "sacramentary (Buku Doa Misa) ini mengandung tambahan posterior pada masa Paus Gelasius dan Paus Gregorius, Duchesne ("Origines du culte Chretien" - Asal-muasal Ibadat Kristen, 118, 261) memperkirakan asal-muasal perayaan ini benar-benar termasuk dalam masa Paus Gelasius. Sinode Toledo ke-10 (thn 665) dan Sinode Trullan (thn 692) berbicara mengenai perayaan ini sebagai salah satu yang dirayakan secara universal di dalam Gereja Katolik.

https://www.facebook.com/images/emoji.php/v8/f55/1/16/1f607.pngπŸ˜‡https://www.facebook.com/images/emoji.php/v8/f55/1/16/1f607.pngπŸ˜‡https://www.facebook.com/images/emoji.php/v8/f55/1/16/1f607.pngπŸ˜‡

"Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau" (1:28).

Demikianlah salam Malaikat Gabriel kepada Maria. Selanjutnya Malaikat Allah itu berkata:

"Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia, Yesus" (1:30-31).

Gereja merayakan peristiwa ini secara khusus mengingat arti dan maknanya bagi keselamatan manusia. Boleh dikatakan peristiwa Sabda menjadi daging berawal pada saat Maria menyatakan kesediaan dan persetujuan kepada Malaikat Gabriel, pembawa kabar gembira itu, dan semenjak itu pula Maria menjadi Bunda Allah.

Satu hal yang harus kita camkan dalam hati ialah "hormat Allah pada Maria" sebagaimana terlihat dalam permintaan kesediaan Maria untuk menerima Sabda Allah dalam rahimnya. Di sini Allah tidak memaksa Maria, tetapi meminta kesediaannya. Maria sendiri menyadari bahwa Tuhan memilih dia karena menganggap dia layak untuk menerima kabar gembira itu. Tetapi sebagai manusia, Maria masih tampak ragu-ragu akan makna kabar itu. Oleh karena itu, ia menanyakan lebih lanjut keterangan dari Malaikat Allah itu:

"Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?" (Luk. 1:34).

Dan ketika ia sudah merasa pasti akan makna kabar gembira Malaikat itu:

"Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menanungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. ..." (Luk. 1:35).
Maria berkata:

"Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu" (Luk. 1:38).


Dari berbagai sumber https://www.facebook.com/images/emoji.php/v8/f55/1/16/1f607.pngπŸ˜‡https://www.facebook.com/images/emoji.php/v8/f55/1/16/1f607.pngπŸ˜‡https://www.facebook.com/images/emoji.php/v8/f55/1/16/1f607.pngπŸ˜‡
PAX DOMINI SIT SEMPER VOBISCUM.

Sisi Lain dari “Tujuh Puluh Kali Tujuh Kali”


Romo BΓΆhm yang memimpin Ekaristi pagi tadi bersaksi demikian, “Sejak kecil saya sudah belajar untuk menaruh Yesus dalam segala pengalaman hidup saya. Saat berjumpa dengan pengalaman yang ini, bagaimana Yesus berbicara tentang hal ini? Apa yang dikehendaki Yesus dengan kejadian ini? begitu seterusnya sampai sekarang.” Dan ketahuilah, beliau adalah panutan hebat di sini, minimal bagi saya secara pribadi.

Maksudnya jelas, agar kehendak Tuhanlah yang terjadi atas hidup ini. Apa kehendak Tuhan kepada Petrus yang bertanya, “Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?” (Mat. 18:21). “Bukan! Aku berkata kepadamu: bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali” (Mat. 18:22).

“Mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali? Bagaimana mungkin? Bukankah ini terlihat sangat rumit? Oh Tuhan, saya tak sanggup!”

Memang Anda tak sanggup bila mengandalkan kemampuan sendiri, sebab manusia pada hakikatnya terbatas, lemah, dan tidak bisa bekerja sendiri. Ia “harus” bekerja sama dengan Allah, Tuhan, yang Mahabelaskasih. Kita sepakat bahwa mengampuni sampau tujuh puluh kali tujuh kali merupakan pengampunan yang tanpa batas, terus-menerus, tiada hentinya. Tetapi dari sisi lain, kita membutuhkan rahmat Allah untuk membantu kita mewujudkan pengampunan yang tanpa batas itu.

Yesus menghubungkan tindakan mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali ini dengan Kerajaan Sorga. Pemilik Kerajaan Sorga itu adalah Allah sendiri, yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambaNya. Salah seorang hamba ternyata berhutang kepadaNya, dan sesegera mungkin hamba itu harus melunaskannya. Akan tetapi, sang hamba itu tidak mampu melunaskan hutangnya sehingga sujud menyembah kepadaNya lalu berkata: “Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.” Apa yang terjadi setelah itu? Allah tergerak hati oleh belas kasihan akan hambaNya itu, sehingga Ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Perhatikanlah, di dalam Kerajaan Sorga ada hati yang tergerak oleh belas kashian. Pemilik hati itu adalah Allah. Belas kasihan Allah membebaskan dan menghapuskan hutang hamba itu. Tidak ada sisa, malahan bersih; hutangnya dilupakan dan tidak perlu diungkit-ungkit lagi. Inilah arti terdalam dari pengampunan yang tanpa batas: “tujuh puluh kali tujuh kali.” Sakramen Tobat di dalam Gereja memberikan rahmat ini, sebab Allah mengampuni dengan segenap hatiNya.

Sangat disayangkan karena setelah semua itu, hamba itu tidak belajar dari Allah yang telah memberi pengampunan kepadanya. Ia pergi dan mendapati seorang hamba lain, yang kebetulan berhutang kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu dan menyuruh membayar hutangnya. Meski kawannya sudah bersujud dan memohon, tetap hamba itu bersih keras dan menyerahkan kawannya ke dalam penjara sampai ia melunaskan hutangnya. Di sinilah keterbatasan manusia, tidak mampu mengampuni dan membebaskan, apalagi menghapuskan hutang. Hati hamba itu masih tertutup, belum tergerak oleh belas kasihan.

“Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau? Maka Bapa-Ku yang di Sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu” (Mat. 18:33,35).
“Mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali” hanya lahir dari hati yang berbelas kasihan, hati yang tidak lagi memikirkan kesalahan orang, melainkan melihat orang lain sebagai sesamanya. “Engkau masih tak sanggup?” Belajarlah dari Yesus, yang menunjukkan secara nyata kesungguhan belas kasihan itu, yang rela disalibkan untuk semua orang dan mendoakan para penjahat dari kayu salib: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk. 23:34).

Rasul Yohanes menegaskan supaya kita “menjadi anak” di depan Allah. Sebab syarat untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga adalah orang harus “dilahirkan kembali” (Yoh. 3:7), “dilahirkan dari Allah” (Yoh. 1:13), supaya “menjadi anak Allah” (Yoh. 1:12) [KGK 526]. Untuk memenuhi pengampunan “tujuh puluh kali tujuh kali” ini, orang mesti menjadi anak Allah, belajar dariNya, memohonkan rahmatNya, mendengarkan Roh Kudus di dalam hatinya, memiliki hati yang berbelas kasihan, supaya sanggup melaksanakan kehendakNya itu. Mengampuni sampai tujuh puluh kali tujuh kali. Ketahuilah, ini adalah tugas dan kewajiban hamba-hamba Kerajaan Sorga.


PAX DOMINI SIT SEMPER VOBISCUM.

Yusuf, Suami Maria


Pernah, ada yang menganggap Yusuf, "ayah" dari Yesus, mempunyai anak-anak, selain Yesus. Anggapan ini melebar dengan menekankan bahwa Santa Maria berhubungan intim dengan Yusuf di kemudian hari. Anggapan konyol ini lahir dari ‘salah tafsiran’ terhadap Mat. 1:25, “tetapi tidak bersetubuh (Yusuf) dengan dia (Maria) sampai ia melahirkan anaknya laki-laki.” Padahal, Matius, sebagai penginjil, tidak melaporkan hal demikian, pun tidak bermaksud memberikan informasi seperti anggapan konyol itu.

Sebaliknya, Matius ingin memperjelas soal ketaatan dan ketulusan Yusuf sebagai seorang suami. Dan, perjumaapan Yusuf dengan malaikat Tuhan dalam mimpinya merupakan peneguhan atas apa yang dialami oleh Maria, isterinya yang sah. Yusuf taat kepada Tuhan sehingga ia mengambil Maria sebagai isterinya (baca Mat. 1:19-25). Apa yang dialami oleh Yusuf ini, terjadi di Nazareth, kota kehidupan atau kota keturunan, sesuai dengan arti nama kota ini.

Mengenai “ketulusan” hati Yusuf (Mat. 1:19), ini nampak dalam hal bahwa di satu pihak ia tidak mau memberikan nama kepada Anak yang akan dilahirkan Maria. Sebab ia sendiri tidak mengetahui asal-usul Anak itu. Di lain pihak, Yusuf tidak mau memaksa Maria menjalani pemeriksaan keras yang diperintahkan oleh Hukum (Ul. 22:20 dst) karena ia sangat yakin tentang kesucian Maria, isterinya.

Yusuf begitu bijaksana memutuskan persoalan ini, mempertimbangkan secara matang sebelumnya di bawah bimbingan Roh Kudus, dan mengambil Maria sebagai isterinya yang sah secara hukum. Ketulusan yang dimilikinya adalah bagian dari kesalehan yang ada di dalam dirinya. Ia tidak dapat dihantui oleh godaan kebingungannya dan tidak mencurigai Maria yang telah mengandung Yesus. Makanya, ia tidak dapat meninggalkan Maria (Mat. 1:19).

Mengenai Yusuf yang duda dan memiliki enam orang anak dari perkawinan pertama, lalu menikah dengan Maria, Mgr. Nicolaas Schneider CICM menulis, “Kisah ini dimaksudkan untuk menerangkan bagian Injil yang melukiskan tentang saudara-saudara Yesus (Mat. 12:46; Yoh. 2:12; 7:10). Keterangan yang sebenarnya ditemukan dalam makna kata bahasa Aram yang digunakan Yesus dan murid-muridNya. Bahasa Aram menggunakan kata yang sama untuk melukiskan saudara-saudara dan sepupu-sepupu, dan para pengarang Injil mengetahui bahwa hal ini akan berarti dan dipahami oleh umat yang menjadi tujuan penulisan Injil bila mereka menunjuk pada saudara-saudara Yesus. Yusuf dan Maria benar-benar menikah. Mereka memiliki hak-hak perkawinan secara penuh satu terhadap yang lain seperti lazimnya suami-isteri, walaupun mereka sendiri tidak menggunakan hak-hak itu. Alasan pokok teologis mengapa Yesus dilahirkan dari seorang perawan adalah bahwa Pribadi Kedua dalam Tri Tunggal Mahakudus itu telah ada sejak kekal. KelahiranNya sebagai manusia melalui Rahim Maria menunjukkan kehendak Allah untuk menjadi seorang anggota umat manusia dalam sebuah keluarga manusia. Yusuf – meskipun bukan ayah Yesus dalam arti fisik (biologis) – dihubungkan dengan Yesus oleh persatuan rohaniah seorang ayah, kewibawaan dan pelayanan.” Kiranya mengenai garis keturunan Yusuf amat jelas telah digambarkan oleh Matius dalam kitabnya (Mat. 1:1-17).

Yusuf sepertinya memiliki tipologi dalam Perjanjian Lama. Ia layaknya Yusuf, anak bungsu dari Yakub. Kehidupan Yesus diwarnai dengan unsur tipologis Yusuf ini dalam perannya sebagai seorang kepala rumah tangga. Nama “Yusuf” yang disebutkan dalam Perjanjian Lama disandang oleh suami Maria ini. Dilukiskan sebagai orang ‘benar’ dan ‘tulus.’ Dua Yusuf ini menerima pewahyuan melalui mimpi, sama-sama ‘dibuang’ ke Mesir dan peranan mereka dalam sejarah keselamatan yang dikerjakan Yesus cukup kelihatan. Bangsa Israel dibebaskan oleh Musa kala itu dan Yusuf memainkan peran penting di sana, dimana Musa menjadi pemimpin pembebasan itu. Sementara dalam Perjanjian Baru, Yusuf menjadi kepala keluarga, yaitu ‘ayah’ Yesus yang membebaskan manusia dari dosa.

Demikianlah Yusuf, suami Maria, menjadi pelindung bagi keluarga kudus dari Nazareth itu, sekaligus menjadi pelindung Gereja Universal. Sri Paus Pius IX menetapkan hal ini pada tanggal 8 Desember 1870 dan dirayakan oleh Gereja pada setiap tanggal 19 Maret. Tanggal 19 Maret ini ditetapkan oleh Sri Paus Pius XII sebagai Hari Raya utama Santo Yusus. Sri Paus Pius XI mengangkat Yusuf sebagai pelindung perjuangan Gereja melawan komunisme ateistik pada tahun 1937. Sementara pada tahun 1961, Sri Paus Yohanes XXIII memilih Yusuf sebagai pelindung surgawi Konsili Vatikan II. Nama “Yusuf” resmi dimasukan dalam Kanon Misa pada tahun 1962. Berbeda dengan tanggal 1 Mei, pesta pada tanggal ini dimaklumkan oleh Sri Paus Pius XII sebagai pesta Santo Yusuf Pekerja untuk menyatakan kembali keikutsertaan Gereja dalam karya penyelamatan Allah.


PAX DOMINI SIT SEMPER VOBISCUM.

Perempuan di Bibir Sumur Yakub

(truthbook.com)

Siang ini kami punya kesempatan untuk bersenda gurau dengan Abang kami yang di Jakarta. Ia cukup "lihat" dalam memainkan kata dan frasa, berbakat, dan pernah menggeluti tulisan-tulisan Khalil Gibran, orang Libanon yang terkenal itu.

Makanya, ketika diskusi kami sampai ke "Sabda" hari Minggu ini, Abang kami ini mengaku belum misa tapi sudah membaca Sabda hari ini. Ya, Sabda tentang sorang perempuan di bibir Sumur. Itu ide yang keluar dari mulut si Abang. Menarik!

Apa tendensi "Perempuan di Bibir Sumur" itu? Well.. Hari ini, dalam Minggu Prapaskah III ini, Yesus berjumpa dengan seorang perempuan Samaria. Perempuan yang sebenarnya menyadari diri sebagai orang asing di hadapan orang Yahudi seperti Yesus. Perempuan ini tak bersuami tapi pernah memiliki beberapa laki-laki. Bahkan, lelaki yang kelima, yang sekarang ada bersamanya (di rumah), pun bukan suaminya. Yesus mengetahui keberadaan perempuan ini, dan sebaliknya ia heran mengapa Yesus mengetahuinya.

Adalah kesempatan bertemu dengan Yesus itu, terjadi di bibir Sumur Yakub, bapa dari Yusuf, si bungsu yang dahulu diperlakukan sewenang-wenang oleh saudara-saudaranya. Alasannya, Yakub, bapanya, terlalu mencintai Yusuf, si bungsu itu. Apa pun itu, Sumur itu tetap dikenang oleh orang-orang Samaria sebagai pemberian tokoh besar Yakub, termasuk perempuan itu.

Setidaknya, perempuan "berdosa" itu berjumpa dengan Guru bijaksana, Juruselamat dunia (demikian bagi orang-orang Samaria yang datang saat itu) di bibir Sumur itu. Ia hendak menimba air dari Sumur itu, tapi justru menimba dari Sumur hidup sejati. Dialah Yesus, sang Guru bijaksana, Juruselamat dunia.

Agak mengherankan, karena Yesus sebetulnya meminta air dari perempuan Samaria itu, tetapi justru Ia memberi air kepada si perempuan Samaria. Bibir Sumur menjadi saksi bisu atas keheranan ini. Air Sumur itu berbeda dengan air yang diberikan Yesus, sang Guru, Juruselamat dunia. Air yang diberikan Yesus adalah dari diriNya sendiri, sementara perempuan itu tetaplah merupakan pencari air, peminum yang haus akan Roh dan Kebenaran, pembawa tempayan air sejati.

Injil Yohanes cukup dikenal dengan "Injil yang basah," karena banyak mengisahkan tetang air. Ingat di Kana, tempat dimana Yesus mengubah air menjadi anggur. Nikodemus, orang yang berdiskusi dengan Yesus tentang air dan kelahiran kembali. Perempuan Samaria di Bibir Sumur Yakub ini. Seorang yang sakit selama 38 tahun di serambi Salomo. Dan puncaknya, di Salib Golgota, dimana darah dan air mengalir keluar dari lambung Yesus.

Sama.. Dari bibir Sumur Yakub pun Yesus memberikan air kehidupan bagi perempuan Samaria itu. Air yang dahulu menyegarkan bagsa Israel dalam perjalanan menuju tanah terjanji, dimana Musa membelah sebuah batu besar dan keluarlah air, di Meriba. Kini, air itu adalah Yesus sendiri, sumber yang menghidupkan, yang menyegarkan. Yohanes Penginjil mengerti betul "cerita" mengenai air dalam kitabnya. Dalam konteks ini, sumur hidup itu adalah Yesus, penyegar dahaga kehausan sang perempuan Samaria.

Benarlah pengampunan itu! Tuhan sendiri "haus" akan orang-orang berdosa, Ia rela menjadi air untuk memenuhi dahaga kemarau manusia yang berkepanjangan. Ia sendirilah yang duduk di bibir sumurNya untuk tiap-tiap orang yang mencari dan mendekatiNya. Ia siap memberi kepuasan rohani, menjadi mata air sejati bagi mereka yang haus akan Dia. Maka langkah pertobatan kecil menjadi sangat berarti. Langkah yang mengantar tempayan jiwa yang kosong menuju Bibir Sumur Yesus untuk menimba air hidup sejati.

Ah.. perempuan Samaria itu begitu gembira karena telah menerima air hidup sejati. Semoga banyak jiwa yang mendekati bibir Sumur yang sama untuk menerima air hidup demi kehidupan kekal. Sebab darah dan air yang mengalir di kayu salib itu adalah Roh dan Kebenaran seperti yang dialirkan kepada perempuan Samaria di bibir Sumur hidup itu. Air, yang dalam Roh Kudus, menjadi tanda kelahiran Gereja dan Sakramen yang menyelamatkan.


PAX DOMINI SIT SEMPER VOBISCUM.

Selasa, 21 Februari 2017

Berita Penderitaan, "Derita Pewartaan"


Situasi sudah "memanas" sehingga Yesus harus melakukan penyingkiran bersama murid-muridNya. Banyak orang Galilea telah mengetahui siapa Yesus. Namun pengetahuan terbatas pada unsur kepuasan raga belaka, dan ujungnya, mereka ingin agar Yesus menjadi raja atas mereka. Maka, penyingkiran Yesus kali ini tidak boleh diketahui oleh orang-orang Galilea. Dengan demikian, pengajaranNya terpusat hanya kepada para muridNya. Ketahuilah, isi dan inti pengajaran Yesus ialah peristiwa wafat dan kebangkitanNya kelak. Ini sekaligus menjadi berita kedua dari Yesus sendiri yang perlu didengar dan dipahami oleh para muridNya (Mrk. 9:30-32), sama halnya dengan berita pertama (Mrk. 8:31-9:1). Pemberitaan ini akan menjadi 'pencobaan' bagi murid-muridNya di kemudian hari. 

Betapa penting berita wafat dan kebangkitanNya itu sehingga Yesus harus memusatkan perhatian dan pengajaranNya kepada para muridNya tanpa kehadiran orang lain. Bahkan Ia rela memberitahukan itu sebanyak tiga kali dan mengajarkan dengan maksud yang sama: "Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia, dan mereka akan membunuh Dia, dan tiga hari sesudah Ia dibunuh Ia akan bangkit" (Mrk. 8:31, 9:31, 10:33). Tidak lama lagi, pencobaan ini akan terjadi, karena itu para murid harus memahaminya dan tidak boleh takut menghadapinya. Merekalah yang 'wajib' memahami dan mengimani misteri Allah melalui hidup, wafat dan kebangkitan Yesus, bukan seperti orang banyak di Galilea. 

Meski Yesus sudah dua kali mengajarkan kepada mereka, para murid tetap belum memahami: "Mereka tidak mengerti perkataan itu, namun segan menanyakannya kepadaNya" (Mrk. 9:32). Sepertinya, berita ini kurang mendapat tempat dalam hati para murid sehingga segan dan tidak bertanya sama sekali. Akibatnya, di tengah jalan ke Kapernaum, para murid mempersoalkan status dan kedudukan masing-masing mereka di dalam Kristus kelak. Jelas, pikiran mereka masih sama seperti orang banyak di Galilea, yang ingin mengangkat Yesus sebagai raja karena merasa dipuaskan oleh mukjizat-mukjizat yang dilakukan Yesus. Padahal, sasarannya adalah Kerajaan Sorga. Maka pikiran dan diskusi para murid di tengah jalan untuk menjadi yang terbesar dalam Kerajaan Sorga (Mrk. 9:34) tidak dibenarkan oleh Yesus. Sebaliknya, Yesus mengungkapkan paradoks ini sebagai jalan untuk memahami status masing-masing orang dalam Kerajaan Sorga: "Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya" (Mrk. 9:35).

Paradoks di atas tidaklah mudah untuk dilakukan. Kemudian dari pada itu, Yesus menempatkan seorang anak kecil yang pastinya memiliki kelembutan, kepolosan, tidak terbuai dengan jabatan duniawi seperti para murid itu. Bahkan, lebih dalam dari itu, tiap-tiap orang harus rela melayani sampai yang paling kecil dan hina dengan modal kerendahan hati yang besar. Ternyata, berita tentang kematian dan kebangkitan Yesus menyentuh aspek dan nilai-nilai surgawi, yaitu merendahkan diri dan menjadi pelayan. Orang harus mematikan keinginan dirinya dan melayani semua orang (mulai dari yang paling kecil dan hina-dina) untuk bangkit bersama Yesus menuju Bapa. Untuk itulah, para murid harus berani mengalami kematian Yesus seraya menumbuhkan semangat yang rela dan mengorbankan diri seutuhnya dengan menolak keinginan duniwai sebagaimana orang-orang Galilea pada umumnya dan mereka sendiri pada khususnya. Dengan begini kebangkitan Yesus menjadi pewartaan yang menghidupkan karena kerelaan mereka untuk menderita demi Yesus, dan dengan itu pula Bapa tetap disambut dalam nama Yesus. (Pict: Iman Katolik).

Pax Domin, sit semper vobiscum.

Minggu, 19 Februari 2017

Haruskah Mata Ganti Mata atau Gigi Ganti Gigi?


Rasanya sangat-sangat sulit melakukan amanat Yesus hari ini. "Ah.. Yesus, yang benar saja?" Namun demikian, perlu ditinjau lebih jauh mengenai sabda Yesus ini. 

Mata ganti mata, gigi ganti gigi (Kel. 21:24), ditambahkan lagi tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak (Kel. 21:25), bahkan sebelumnya disebutkan nyawa yang melayang harus diganti dengan nyawa (Kel. 21:23). Ini adalah hukum pembalasan dalam Perjanjian Lama. Hukum ini nampaknya memperbolehkan orang untuk membalas kejahatan dengan kejahatan. Tapi sesungguhnya tidaklah demikian. Sebab dalam Im. 19:18, ada semacam "pembaruan" akan hukum ini: "Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN." 

Selanjutnya, dalam Im. 24:17-20 masih diserukan hukum pembalasan yang sama oleh Allah: "apabila seorang membunuh seorang manusia, pastilah ia dihukum mati. ... mata ganti mata, gigi ganti gigi." Ul. 19:21, "... nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki." Dasar hukum ini adalah Ul. 19:19, "Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari tengah-tengahmu." Adanya pembalasan terhadap kejahatan hendaknya melahirkan sikap dan efek jerah dari orang lain yang mengalami dan menyaksikan hukuman itu berlangsung. Tujuannya hanya satu yaitu, "kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Im. 19:18). Tidak boleh ada dendam dan permusuhan, tetapi sebaliknya kasih-mengasihi satu sama lain. 

Yesus menyajikan kembali hukum lama ini di hadapan para muridNya kala itu: "Kamu telah mendengar firman: mata ganti mata, gigi ganti gigi. Tetapi Aku berkata kepadamu, janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu" (Mat. 5:38-39). Bukan pembalasan yang dikehendaki melainkan belaskasihan. Jelas, hukum Yesus adalah kasih. Kasih yang tidak terbatas kepada sesama yang mengasihi, tetapi sampai kepada sesama yang memusuhi (Mat. 5:44). Sebab, yang pertama adalah kasih, bukan kejahatan. 

Dengan jalan kasih, Yesus menarik kembali para muridNya sampai ke awal penciptaan, bahwa semua baik adanya, tidak ada kejahatan; Allah tidak pernah menciptakan kejahatan. Penarikan Yesus ini kiranya mengacu pada sabda ini: "Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus" (Im. 19:12). Perintah Allah untuk menguduskan diri berhubungan dengan kehidupan sehari-hari, relasi antar sesama (keluarga ataupun masyarakat luas). Masing-masing orang hendaklah menjadi kudus, karena Allah telah menguduskannya. 

Rasul Paulus menunjuk tiap-tiap orang sebagai 'tempat' berdiamnya Allah, bait kudus, yaitu pribadi manusia seutuhnya (1Kor. 3:16-17). Apabila timbul kejahatan di antara manusia, itu sesuatu yang amat keliru dan tidak pernah dikehendaki oleh Allah. Itu sebabnya, Yesus dengan tegas mendudukkan kasih sebagai 'solusi' atas seluruh persoalan hidup, termasuk persoalan antar sesama. Kejahatan tidak boleh dibalas dengan kejahatan sebab masing-masing orang diciptakan serupa dengan Allah dan 'diwajibkan' hidup seperti Allah, yakni kudus dan berbuat kasih. Ini tak lain adalah menjadi sempurna, sama seperti Bapa yang di sorga sempurna adanya (Mat. 5:48).

Pax Domini, sit semper vobiscum.